Listrik Indonesia | Direktur Operasional Kayan Hydro Energy (KHE), Khaeroni mengungkapkan bahwa Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Kayan memiliki total kapasitas sebesar 9.000 megawatt (MW). Hal tersebut ia ungkapkan di Tanjung Selor, Kalimantan Utara, Minggu (10/12/2023).
"Karena ini ada proyek pemerintah, kita juga harus support. Di IKN, presiden ngomong di sana harus green energy, tidak ada bakar karbon. Pembangkit listrik yang paling stabil adalah pembangkit air. Jadi pas KHE kalau support untuk green-nya," ungkapnya.
Proyek PLTA Kayan menghabiskan total investasi sebesar US$17,8 miliar, atau sekitar Rp275,9 triliun dengan asumsi kurs Rp15.500 per dolar AS. Dana ini akan digunakan untuk membangun lima bendungan, masing-masing dilengkapi dengan 5-6 unit turbin pembangkit listrik.
PLTA Kayan memiliki lima tahap dalam pembangunan, tahap pertama dengan kapasitas 900 MW, tahap kedua 1.200 MW, tahap ketiga dan keempat masing-masing 1.800 MW, dan tahap kelima 3.300 MW.
Khaeroni menekankan bahwa fokus saat ini adalah pada pembangunan bendungan pertama, Kayan 1. Proyek ini akan dilaksanakan dari hilir ke hulu, dengan penyelesaian tahap hilir terlebih dahulu sebelum memulai pembangunan infrastruktur bendungan berikutnya.
"Saat ini kita masih fokus (bendungan) Kayan 1. Karena itu bangunnya dari hilir ke hulu. Jadi hilir dulu selesai, 1 tahun sebelum selesai dilakukan pembangunan infrastruktur ke bendungan berikutnya. Simultan sampai bendungan 5," katanya.
Khaeroni menjelaskan bahwa berdasarkan hasil kunjungan dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Balai Wilayah Sungai (BWS), hingga Balai Teknik Bendungan, progres pembangunan bendungan pertama setidaknya sudah mencapai 27% pada Agustus 2023. Target operasional komersial (COD) untuk bendungan pertama ini dijadwalkan pada tahun 2027.

