Listrik Indonesia | PT PLN (Persero) melalui PLN Indonesia Power (PLN IP) menekankan pentingnya diversifikasi sumber energi untuk memenuhi kebutuhan listrik Indonesia. Langkah ini diambil dalam upaya mendukung target nol emisi karbon (net zero emission) pada tahun 2060.
Direktur Utama PLN Indonesia Power, Edwin Nugraha Putra, menyatakan komitmen perusahaan untuk tidak hanya memperhatikan kebutuhan listrik saat ini, tetapi juga masa depan. Dalam keterangan resminya, Edwin mengungkapkan bahwa PLN Indonesia Power telah menyiapkan berbagai strategi pengembangan energi baru terbarukan (EBT) untuk memenuhi kebutuhan listrik Indonesia 35 tahun ke depan. Hal tersebut ia ungkapkan Selasa (07/05/2024).
"35 tahun dari sekarang beban akan sangat tinggi, jadi kami perlu melihat energi baru terbarukan yang mungkin tersedia di Indonesia," ungkapnya.
Untuk mencapai target net zero emission, Edwin mengakui bahwa perjalanan tidaklah mudah. Namun, PLN Indonesia Power terus berupaya menemukan solusi strategis dalam transisi energi.
"Saat ini kami sudah mulai mengenalkan EBT hidro, panas bumi, nuklir dan cofiring amonia. Namun ini belum dapat digunakan sekarang, karena akan berdampak pada kenaikan biaya listrik," ungkapnya.
Meskipun demikian, Edwin mengakui bahwa penerapan energi bersih saat ini masih dihadang oleh biaya produksi yang tinggi, yang berpotensi meningkatkan biaya listrik. Namun, pengembangan teknologi di masa mendatang diharapkan dapat menekan biaya produksi dan membuatnya lebih terjangkau.
"Jadi kami menunggu kematangan teknologi, dan kemudian kami akan menggunakannya untuk menekan emisi karbon," ujarnya.
Sebagai langkah awal, PLN Indonesia Power telah merancang strategi pengembangan EBT melalui proyek Hijaunesia 2023. Proyek ini difokuskan pada pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dan Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) dengan total kapasitas 1.055 MW melalui skema strategic partnership.
PLN Indonesia Power berencana untuk mempercepat pembangunan PLTS di 5 lokasi dengan total kapasitas 500 MW, dengan target penyelesaian konstruksi lebih cepat dari sebelumnya.
"Pembangunan pembangkit tersebut dengan proses paralel antara lain pra-seleksi mitra termasuk kontraktor EPC, pemilihan lender, dan proses perizinan," pungkasnya.
