Listrik Indonesia | Berbagai tantangan dalam menjaga kestabilan sistem kelistrikan di tengah penetrasi energi terbarukan mengemuka dalam sebuah diskusi teknis yang diikuti para praktisi pembangkit, termasuk tim teknis Wärtsilä. Beragam pertanyaan mengenai kemampuan generator menyerap daya reaktif, keandalan synchronous generator, hingga kesiapan mesin terhadap bahan bakar berkelanjutan dibahas secara mendetail dalam Energy Transition Roundtable yang digelar Wärtsilä Indonesia di JICC, Jakarta. Kamis, (20/11/2025).
Salah satu isu yang banyak ditanyakan ialah seberapa jauh generator dapat menyerap daya reaktif (VAR). Wärtsilä menjelaskan bahwa batasannya bergantung pada kurva kapabilitas masing-masing generator. Secara umum, untuk engine 3–4 DF dengan kapasitas 12.800 kV ampere, kemampuan penyerapannya berada pada kisaran minus 4 MVAR atau sekitar 28–30% dari apparent power. Namun penentuan detail tetap harus mengacu pada manual dan kurva kapabilitas tiap unit.
Mengenai operasi synchronous generator, teknologi ini bekerja otomatis tanpa perlu mematikan mesin terlebih dahulu. Ketika perbedaan kecepatan terdeteksi, mekanisme kopling akan melepaskan secara otomatis. Sistem otomatisasi ini memungkinkan generator menyerap VAR sekaligus tetap siap kembali memasok daya aktif maupun reaktif saat dibutuhkan.
Kesiapan Menghadapi Bahan Bakar Baru
Pembahasan juga menyinggung kesiapan mesin terhadap bahan bakar campuran biodiesel hingga hidrogen. Febron Siregar, Sales Director Wärtsilä Energy memaparkan pengalaman operasional di Lombok yang menunjukkan bahwa mesin tetap stabil meski kandungan FAME dalam biodiesel berada di level 45%. Wärtsilä menyebut telah menyiapkan panduan teknis untuk operasi hingga B100. Untuk hidrogen, platform mesin 3.1 disebut sudah memperoleh sertifikasi, sementara model 3.4 masih dalam kajian.
Integrasi Baterai, Energi Terbarukan, dan Mesin dalam Satu Sistem Kendali
Topik lain yang mengemuka ialah kebutuhan data center yang mengandalkan kombinasi mesin cepat, sistem UPS, dan pembangkit berbasis mesin. Stuti menjelaskan bahwa pendekatan yang lebih efektif adalah mengintegrasikan mesin, baterai (BSS), hingga pembangkit surya dan angin dalam satu microgrid dengan energy management system (EMS).
Pengalaman di Curacao menjadi contoh penerapan paket lengkap tersebut menggabungkan turbin angin, PLTS, baterai, dan mesin dalam satu platform kendali. EMS mampu mengatur kapan baterai harus charging atau discharging, bahkan menyesuaikan operasi berdasarkan prakiraan cuaca. Hasilnya, stabilitas frekuensi dapat dipertahankan di level sangat presisi, seperti 50.00–50.01 Hz. Pendekatan “complete package” terbukti lebih stabil dibanding sistem yang hanya mengandalkan kontrol mesin.
Pendekatan terintegrasi juga dinilai lebih menguntungkan secara biaya. “Kalau cycling terlalu sering, mesin akan lebih boros. Dengan baterai, beban fluktuatif bisa diserap lebih efisien sehingga biaya pembangkitan lebih terkendali. 
Dukungan untuk Daerah 3T dan Fleksibilitas Bahan Bakar
Menjawab pertanyaan mengenai elektrifikasi di daerah 3T, Febron melanjutkan penjelasan bahwa wilayah tanpa transmisi memerlukan pembangkit lokal berbasis energi terbarukan dan teknologi stabilisasi sistem. Meski tidak memproduksi panel surya, Wärtsilä mendukung integrasi renewable melalui teknologi penyeimbang dan respon cepat.
Soal dual fuel, tim teknis menegaskan bahwa fleksibilitas bahan bakar menjadi keunggulan utama. “Jika pasokan gas terganggu, mesin tetap dapat menyala dengan bahan bakar cair tanpa perbedaan efisiensi yang signifikan,” jelas Febron. Hal ini penting untuk menjaga kontinuitas listrik di wilayah dengan suplai gas tidak stabil.
Isu Regulasi Masih Jadi Tantangan Integrasi EBT
Fabby Tumiwa dari Institute for Essential Services Reform (IESR) menambahkan bahwa fleksibilitas sistem listrik juga bergantung pada regulasi. Pengoperasian PLTU lama secara fleksibel memang memungkinkan, namun perubahan pola operasi berdampak pada biaya pembangkitan. Penambahan baterai, meski memberikan kemampuan ramping lebih cepat, juga harus memperhitungkan struktur biaya dan lokasi.
“Pada akhirnya, integrasi fleksibilitas selalu terkait tarif dan regulasi. Ini yang perlu dibenahi agar sistem listrik lebih adaptif,” ujar Fabby.
