Danantara Resmikan Dua Proyek Hijau

Danantara Resmikan Dua Proyek Hijau
Danantara Resmikan Proyek Hijau

Listrik Indonesia | Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara menegaskan perannya sebagai motor penggerak hilirisasi nasional dengan meresmikan dua proyek energi ramah lingkungan milik PT Pertamina (Persero). Dua proyek tersebut adalah Biorefinery Cilacap di Jawa Tengah dan Pabrik Bioethanol Glenmore di Banyuwangi, Jawa Timur. 

Peresmian dilakukan serentak dalam agenda Peluncuran Proyek Hilirisasi Fase I yang digelar di Kantor Danantara, Jakarta, dan terhubung secara daring ke lokasi proyek. Langkah ini menjadi sinyal kuat bahwa Danantara mulai memainkan peran strategis dalam mengarahkan investasi negara ke sektor energi hijau berbasis sumber daya domestik. 

CEO Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, menyampaikan bahwa hilirisasi merupakan mandat langsung Presiden dan menjadi fokus utama lembaga yang dipimpinnya dalam mendorong transformasi ekonomi nasional. 

“Proyek-proyek tahap awal ini diharapkan langsung memberi dampak nyata bagi perekonomian, mulai dari penciptaan nilai tambah industri hingga penyerapan tenaga kerja. Ke depan, hilirisasi akan menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi yang lebih berkelanjutan dan kompetitif secara global,” ujar Rosan dikutip Senin (9/2/2026). 

Ia menekankan, keberhasilan program ini bergantung pada kolaborasi erat antara pemerintah, BUMN, dan mitra strategis agar Indonesia tidak hanya menjadi penghasil bahan mentah, tetapi juga pemain utama dalam industri bernilai tambah tinggi. 

Dari sisi operator proyek, Direktur Utama Pertamina Simon Aloysius Mantiri menyatakan bahwa kedua proyek hijau tersebut merupakan wujud konkret dukungan Pertamina terhadap agenda swasembada energi nasional berbasis energi bersih. 

“Biorefinery Cilacap dan Pabrik Bioethanol Glenmore berpotensi menekan impor BBM dan Avtur, sekaligus mendukung pengembangan Sustainable Aviation Fuel (SAF) sesuai peta jalan transisi energi nasional,” jelas Simon. 

Direktur Strategi Portofolio dan Pengembangan Usaha Pertamina, Emma Sri Martini, yang hadir di lokasi Kilang Cilacap, menuturkan bahwa proyek biorefinery sejalan dengan strategi Dual Growth Pertamina, yakni mengembangkan bisnis rendah karbon tanpa meninggalkan penguatan bisnis eksisting. 

Menurut Emma, pengembangan SAF membutuhkan ekosistem yang solid dari hulu ke hilir. Karena itu, Pertamina menggandeng berbagai pemangku kepentingan, mulai dari regulator, penyedia bahan baku, hingga pengguna akhir. 

“Proyek ini memiliki multiplier effect yang besar, dari pengurangan impor, perbaikan neraca berjalan, penciptaan lapangan kerja, sampai kontribusi terhadap penurunan emisi dan kualitas udara,” kata Emma. 

Sementara itu, Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis Pertamina Agung Wicaksono menghadiri langsung peresmian Pabrik Bioethanol Glenmore di Banyuwangi. Ia menyebut proyek tersebut sebagai bentuk nyata sinergi BUMN energi dan perkebunan dalam menghasilkan energi bersih. 

“Kolaborasi Pertamina dan PTPN ini bukan hanya soal energi, tetapi juga tentang menggerakkan ekonomi rakyat melalui penguatan petani tebu dan tenaga kerja lokal,” ujar Agung. 

Profil Proyek Hijau yang Diresmikan Danantara 

Proyek pertama adalah Biorefinery Cilacap yang dirancang mengolah hingga 6 ribu barel per hari minyak jelantah menjadi bahan bakar hijau. Saat ini, fasilitas tersebut telah memproduksi sekitar 27 kiloliter SAF per hari, dengan proyeksi peningkatan menjadi 887 kiloliter pada 2029. 

Keberadaan proyek ini diperkirakan berkontribusi terhadap Produk Domestik Bruto hingga Rp199 triliun per tahun. Pada fase konstruksi, proyek mampu menyerap sekitar 5.900 tenaga kerja dan menargetkan tingkat kandungan dalam negeri sebesar 30 persen. Dari sisi lingkungan, SAF berpotensi menekan emisi hingga 600 ribu ton setara CO2. 

Pengumpulan bahan baku minyak jelantah juga melibatkan masyarakat melalui komunitas seperti Beo Asri yang menaungi lebih dari 2.900 kepala keluarga di tujuh titik pengumpulan. 

Proyek kedua adalah Pabrik Bioethanol Glenmore di Banyuwangi, hasil sinergi Pertamina New and Renewable Energy dengan PT Sinergi Gula Nusantara (SGN), anak usaha PTPN. Pabrik ini dirancang memproduksi hingga 30 ribu kiloliter bioethanol per tahun berbasis tebu. 

Selain berpotensi menekan impor BBM dan ethanol, proyek ini diperkirakan melibatkan lebih dari 4.000 tenaga kerja lokal dan petani tebu, dengan target kandungan lokal sekitar 25 persen. Dampak lingkungannya diproyeksikan mampu menurunkan emisi sekitar 66 ribu ton setara CO2 per tahun.

Ikuti ListrikIndonesia di GoogleNews

#Danantara

Index

Berita Lainnya

Index