Listrik Indonesia | Perusahaan Mineral Nasional (Persero) atau Perminas menggandeng perusahaan Kanada, New Energy Metals Holdings Ltd, untuk mengelola potensi niobium dan logam tanah jarang (rare earth) di Republik Gabon sebagai bagian dari penguatan rantai pasok global. Noibium dan logam tanah jarang merupakan sumber mineral kritis yang bisa menjadi energi terbarukan.
Kolaborasi tersebut didukung Danantara melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) yang menitikberatkan pada integrasi hulu–hilir, pembangunan rantai pasok mineral kritis, serta pengembangan kegiatan eksplorasi hingga manufaktur lanjutan.
Chief Executive Officer Danantara, Rosan Roeslani, menilai optimalisasi mineral kritis menjadi kunci bagi fase pertumbuhan industri berikutnya. Menurutnya, akses terhadap bahan baku strategis dan kemampuan mengolahnya menjadi produk bernilai tambah akan menentukan daya saing Indonesia dalam industri teknologi masa depan.
"Kerja sama ini juga membuka peluang menjadikan Indonesia sebagai pusat pemrosesan dan manufaktur mineral kritis, termasuk niobium, neodymium, dan praseodymium. Mineral tersebut merupakan bahan utama magnet permanen berkinerja tinggi yang digunakan dalam kendaraan listrik, energi terbarukan, serta industri kedirgantaraan dan pertahanan," kata Rosan dalam keterangannya, Rabu (18/2/2026).
Presiden Direktur Perminas, Gilarsi Wahju Setijono, menegaskan optimalisasi sumber daya mineral kritis tidak hanya bertujuan meningkatkan nilai ekonomi, tetapi juga memperkuat ketahanan industri nasional. Menurutnya, pengembangan hilirisasi akan menciptakan rantai nilai yang lebih panjang, mulai dari pengolahan, pemurnian, produksi logam dan paduan, hingga manufaktur komponen teknologi.
- Baca Juga Proyek Rare Earth RI Siap Dimulai
Sebagai langkah lanjutan, para pihak membentuk Joint Working Group untuk menjalankan program kolaborasi terstruktur, termasuk pertukaran data, lokakarya teknis, dan asesmen komersial. Proyek juga mencakup pengembangan heavy rare earth elements seperti dysprosium dan terbium yang memiliki peran vital dalam teknologi energi bersih.
Dari sisi pembiayaan, skema investasi strategis tengah disiapkan, termasuk peluang partisipasi ekuitas maupun pendanaan proyek tambang Maboumine. Langkah tersebut diharapkan mempercepat pemanfaatan cadangan mineral kritis sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global.
President New Energy Metals Holdings Ltd, Abduljabbar Alsayegh, menyatakan kemitraan ini menjadi momentum penting untuk mengoptimalkan sumber daya mineral kritis secara berkelanjutan.
"Kolaborasi lintas negara ini mampu mendorong diversifikasi pasokan, mempercepat hilirisasi, serta memperkuat ekosistem industri kendaraan listrik dan energi masa depan," pungkasnya.