Listrik Indonesia | Direktur Utama PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI), Rakhmad Dewanto mengungkapkan bahwa pihaknya menyiapkan sejumlah strategi untuk menghadapi dinamika dan gejolak energi global, terutama melalui transisi energi dan penguatan pasokan energi primer. Hal tersebut ia ungkapkan dalam peluncuran buku Visionary Autobiography: Jejak Langkah Satya Widya Yudha Pengabdian Tanpa Batas di Parle Senayan, dikutip pada Jumat, (10/04/2026).
Dalam keterangannya, Rakhmad menjelaskan bahwa strategi utama yang diterapkan PLN EPI mencakup percepatan transisi energi melalui program biomass co-firing. Ia menyebutkan bahwa pada tahun ini PLN EPI menargetkan pemanfaatan biomassa sebesar 3,6 juta ton sebagai bagian dari upaya pengurangan emisi di sektor ketenagalistrikan.
Selain itu, PLN EPI juga melakukan pengurangan emisi melalui konversi pembangkit berbahan bakar diesel menjadi berbasis gas alam cair (LNG). Langkah ini dilakukan untuk meningkatkan efisiensi sekaligus menekan emisi dari pembangkit listrik yang selama ini masih bergantung pada bahan bakar minyak.
Rakhmad menambahkan bahwa perusahaan juga memperkuat strategi pengadaan energi melalui kontrak jangka panjang serta pengembangan infrastruktur pendukung. Menurutnya, langkah ini bertujuan untuk menjaga stabilitas pasokan energi primer di tengah ketidakpastian global.
Terkait dampak gejolak energi global, ia menilai bahwa pengaruh yang dirasakan PLN EPI lebih banyak terjadi pada aspek harga energi. “Secara kuantitatif dampaknya lebih ke harga dan itu sebenarnya relatif manageable,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa kebutuhan batu bara untuk Grup PLN mencapai sekitar 92 juta ton, ditambah sekitar 60 juta ton dari pembangkit listrik swasta (independent power producer/IPP). Ia memastikan bahwa pasokan batu bara tersebut dapat terpenuhi dengan dukungan dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
“Kebutuhan batu bara untuk PLN Group sekitar 92 juta ton, ditambah IPP sekitar 60, alhamdulillah dengan bantuan Kementerian ESDM, pasokan batu bara dapat dipenuhi dan sepanjang tahun akan terus kami tambah dengan berkoordinasi dengan KESDM,” jelasnya.
Di sisi lain, ia mengungkapkan bahwa dampak tidak langsung dari gejolak energi global juga tercermin pada mekanisme harga energi, khususnya untuk LNG. Menurutnya, meskipun pasokan LNG berasal dari dalam negeri, harga tetap mengikuti indeks minyak dunia.
“Dampak yang in-direct itu mungkin harga, kenapa harga? Karena memang ada beberapa, seperti harga kontrak LNG, walaupun barangnya domestik tapi kan harganya ngikutin oil index. Jadi kalau harga minyaknya naik, otomatis harganya akan naik,” ungkapnya.
