Ekspor Batu Bara Kalori Rendah Kian Dilirik India dan China

Ekspor Batu Bara Kalori Rendah Kian Dilirik India dan China
ABMM Ekspor Batu Bara

Listrik Indonesia | PT ABM Investama Tbk (ABMM) terus memperkuat posisinya di sektor pertambangan batu bara nasional dengan mengembangkan tambang kalori rendah di Aceh dan Kalimantan untuk pasar ekspor ke India dan China. Tak hanya itu, perusahaan juga mulai menyasar Jepang dan Korea yang dikenal menyerap batu bara kalori tinggi, sekaligus memulai langkah masuk ke energi baru dan terbarukan (EBT) seperti biogas dan biomassa.

Direktur ABMM, Hans Christian Manoe, menjelaskan bahwa produksi batu bara kalori rendah di Aceh telah mencapai hampir 12 juta ton per tahun, menjadikannya salah satu proyek strategis yang lahir dari kemitraan jangka panjang pasca-tsunami 2004. “Aceh bagi kami bukan hanya proyek bisnis, tapi misi sosial. Kami ingin masyarakat punya pendapatan daerah dan martabat yang lebih baik,” ujar Hans.

Dominasi Ekspor, Tetap Penuhi Kewajiban Domestik

Sebagian besar produksi batu bara ABMM memang ditujukan untuk pasar ekspor, terutama India yang sangat menyukai batu bara kalori rendah karena efisiensi logistik dan harga yang kompetitif. Namun demikian, perusahaan tetap menjalankan komitmen untuk memenuhi kewajiban pasar domestik (Domestic Market Obligation/DMO), khususnya untuk pembangkit listrik dalam negeri.

Sementara itu, di Kalimantan, ABMM mengoperasikan tambang batu bara kalori sedang hingga tinggi melalui anak usaha Tunas Inti Abadi dan yang terbaru, Piranti Jaya Utama. Batu bara dari Kalimantan ini dirancang untuk menargetkan pasar ekspor ke Jepang dan Korea, dua negara dengan kebutuhan batu bara kalori tinggi untuk pembangkit mereka.

“Segmen pasar ini sangat penting karena memungkinkan kami menjaga margin di tengah fluktuasi harga batu bara global,” jelas Hans dalam siaran dialognya, dikutip Senin, (28/7/2025).

Masuk ke Energi Terbarukan Secara Bertahap

Walau bisnis utama masih bertumpu pada batu bara, ABMM menyadari pentingnya transisi menuju energi yang lebih bersih. Perusahaan telah memulai langkah awal dengan mengembangkan pembangkit biomassa berkapasitas 2,4 megawatt di Kalimantan Selatan, sebagai bagian dari strategi jangka panjang masuk ke sektor EBT.

Hans menegaskan bahwa meski EBT belum memberikan tingkat keuntungan (internal rate of return/IRR) sebesar batu bara, ABMM tetap mempersiapkan diri. Salah satu strateginya adalah menekan biaya modal agar investasi EBT menjadi lebih kompetitif. “Saat waktunya tiba untuk berpindah ke EBT secara besar-besaran, kami akan sudah siap. Kami sedang menata struktur biaya agar lebih efisien dibandingkan return dari proyek-proyek EBT,” katanya.

Selain batu bara dan EBT, ABMM juga sedang menjajaki peluang bisnis baru di sektor mineral, termasuk emas. Namun, langkah ini diambil dengan penuh kehati-hatian agar tidak mengganggu kestabilan neraca keuangan perusahaan.

“Untuk 2025, komposisi pendapatan kami masih akan didominasi batu bara. Kami tidak ingin beralih terlalu cepat karena beban finansial dan porsi batu bara di struktur keuangan kami masih signifikan,” pungkasnya.

Ikuti ListrikIndonesia di GoogleNews

#Batu bara

Index

Berita Lainnya

Index