Geothermal Indonesia: Potensi Elit, Realisasi Sulit

Geothermal Indonesia: Potensi Elit, Realisasi Sulit
PLTP.

Listrik Indonesia | Wakil Ketua Komisi XII DPR RI, Dony Maryadi Oekon, menekankan perlunya percepatan pemanfaatan energi panas bumi (geotermal) sebagai bagian dari transisi energi bersih di Indonesia. Ia mengingatkan bahwa cadangan geotermal nasional mencapai sekitar 40 persen dari total global, namun pemanfaatannya masih jauh dari optimal. Hal tersebut ia ungkapkan usai memimpin Kunjungan Kerja Spesifik Komisi XII DPR RI ke PLTP Geotermal Kamojang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, dikutip Selasa 30/09/2025).

“Memang reserve (cadangan) geotermal kita cukup tinggi. Dan ini memang bisa digunakan menjadi batch load PLN. Jadi, memang proses pengerjaannya butuh waktu. Tetapi, ngapain kita tunggu-tunggu. Jadi, sekarang kita jalankan saja. Dan ini baru kurang lebih sekitar 10,3%, yang baru terserap dari semua yang ada. Jadi, makanya ini kita tekan dengan ini. Dan ini juga energinya, energi yang bersih. Jadi memang ini harus kita genjot,” ujar Dony.

Menurut legislator asal Jawa Barat itu, Indonesia memiliki banyak gunung berapi aktif yang dapat menjadi sumber panas bumi. Energi ini berpotensi besar menjadi base load bagi PLN sekaligus mendukung transisi menuju energi ramah lingkungan.

“Kamojang ini adalah proses energi geotermal yang pertama, hampir kalau tidak salah, pertama dari tahun 1983 beroperasi, betul-betul manfaat. Jadi, saya betul-betul meminta dalam hal ini Kementerian ESDM dan juga PLN dan juga Pertamina geotermal, lebih mendorong energi (geotermal) ini untuk lebih ke depan. Jadi, melihat dari kondisi di sini saja, kita bisa lihat bahwasanya lingkungan juga tidak ada masalah dan mereka sangat bersih,” jelasnya.

Dony menilai pengembangan geotermal tidak bisa hanya dibebankan pada PLN. Menurutnya, Kementerian ESDM, PLN, dan Pertamina Geotermal harus berbagi peran dalam mempercepat pengembangan energi ini.

“Ini adalah untuk energi kita ke depan nanti, selain ada bayu (tenaga angin) dan juga energi surya. Saya pikir ini tugasnya tugas bersama, bukan hanya PLN. Jadi, sumbernya adalah geotermal. Sebetulnya, kalau kita lihat ini sangat aman, perlu edukasi kepada masyarakat yang harus dilakukan. Bahwasanya, apa yang disebut dengan energi geotermal itu, jauh lagi lebih aman daripada nuklir sebetulnya. Jadi, meskipun nuklir sekarang sudah (maju) dengan teknologi-teknologi yang ada. (Geotermal) ini daripada nuklir, termasuk yang aman," katanya.

Ia juga menekankan pentingnya edukasi kepada publik mengenai manfaat dan keamanan geotermal. Perbandingan dengan nuklir, menurutnya, perlu dipahami masyarakat agar transisi energi lebih diterima.

“Memang, teknologi nuklir kita mau dorong, itu juga harus ada edukasi kepada masyarakat. Begini prosesnya, ini yang dilakukan, supaya masyarakat mengerti tentang energi geotermal dan juga energi nuklir nantinya ke depan,” tambahnya.

Menutup pernyataannya, Dony meminta agar pemerintah dan para pemangku kepentingan memperkuat sinergi untuk mengoptimalkan pemanfaatan geotermal. Langkah ini, katanya, penting demi mendukung kemandirian energi nasional.

"Betul-betul ini benar-benar kita harus minta bersama-sama antara PLN, Pertamina, dan juga Kementerian ESDM, untuk bisa memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai energi geotermal ini," tutupnya.

Ikuti ListrikIndonesia di GoogleNews

#PLTP

Index

Berita Lainnya

Index