Listrik Indonesia | Pemulihan sistem kelistrikan di wilayah terdampak bencana Aceh menjadi pintu masuk bagi bangkitnya kembali aktivitas sosial dan keagamaan masyarakat. PT PLN (Persero) turut mengambil peran dengan mempercepat pemulihan rumah ibadah, khususnya masjid, agar kembali dapat digunakan sebagai pusat kegiatan umat.
Fokus pemulihan dilakukan di lima kabupaten yang terdampak paling parah, yakni Aceh Tamiang, Bener Meriah, Gayo Lues, Aceh Timur, dan Aceh Tengah. Hingga akhir Desember, sebanyak 15 masjid di wilayah tersebut telah dibersihkan dari endapan lumpur serta menerima bantuan operasional guna menunjang kegiatan ibadah warga.
Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo mengatakan, pendampingan pemulihan dilakukan secara bertahap dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan. PLN berkoordinasi dengan pemerintah daerah, TNI, Polri, serta unsur masyarakat untuk memastikan fasilitas publik dapat kembali difungsikan, termasuk rumah ibadah.
“Bagi masyarakat Aceh, masjid bukan sekadar tempat ibadah, tetapi juga pusat kehidupan sosial dan simbol kebangkitan pascabencana. Secara sistem, kelistrikan sebenarnya sudah pulih lebih awal, namun banyak masjid masih tertutup lumpur sehingga belum bisa digunakan. Bahkan, suara azan sempat tidak terdengar hampir sebulan setelah bencana,” ujar Darmawan.
Sejak Selasa (16/12), PLN mengerahkan lebih dari 140 relawan dari berbagai daerah di Indonesia. Bersama Yayasan Baitul Maal (YBM) PLN, para relawan melakukan pembersihan material pascabanjir sekaligus memastikan instalasi listrik di masjid dalam kondisi aman sebelum kembali digunakan.
Menurut Darmawan, proses pemulihan dilakukan secara kolaboratif dengan melibatkan pemerintah setempat, aparat keamanan, serta masyarakat sekitar. Sinergi ini membuat pekerjaan pembersihan dapat diselesaikan lebih cepat, tanpa mengabaikan aspek keselamatan.
“Tim relawan kami menyisir masjid-masjid yang terdampak berat. Selain tenaga, PLN juga menurunkan alat berat seperti buldoser dan backhoe untuk menangani lumpur yang tebal. Seluruh pekerjaan dilakukan dengan mengutamakan keamanan, baik bagi relawan maupun warga,” jelasnya.
Tak hanya fokus pada pembersihan, PLN juga menyalurkan bantuan penunjang ibadah berupa perlengkapan salat, perangkat tata suara, kubah, serta kebutuhan lain yang mendukung aktivitas keagamaan masyarakat.
Dampak bantuan tersebut dirasakan langsung oleh warga. Sulaiman, jamaah Masjid Al-Huda di Kuala Simpang, Aceh Tamiang, mengungkapkan rasa syukurnya setelah masjid kembali dapat digunakan.
“Selama satu hingga dua minggu setelah banjir, kami berusaha membersihkan sendiri, tetapi kemampuan masyarakat terbatas. Kehadiran PLN dengan alat berat sangat membantu membersihkan lumpur yang menumpuk. Alhamdulillah, di minggu ketiga kami sudah bisa melaksanakan salat Jumat bersama warga,” tuturnya.
Apresiasi serupa disampaikan Rudi Muharram, pengurus Masjid Al-Ikhwan di Lampahan Timur, Bener Meriah. Menurutnya, bantuan PLN membuat masjid kembali hidup sebagai pusat ibadah dan kegiatan keagamaan.
“Kami sangat berterima kasih atas bantuan pembersihan dan perlengkapan ibadah yang diberikan. Kini masjid kembali bisa digunakan oleh masyarakat,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Ali Amran, pengurus Masjid Al-Ikhlas di Kampung Rigep, Gayo Lues. Ia menilai kehadiran PLN membawa dampak nyata bagi pemulihan rumah ibadah di wilayahnya.
“PLN tidak hanya membantu membersihkan, tetapi juga memberikan dukungan yang sangat berarti bagi kami. Masjid kembali siap digunakan oleh warga,” tutup Ali.

