Current Date: Minggu, 15 Februari 2026

PLN Tuntaskan Pemulihan Listrik di Aceh

PLN Tuntaskan Pemulihan Listrik di Aceh
Listrik Aceh 98 Persen Sudah Pulih Kembali

Listrik Indonesia | Upaya pemulihan kelistrikan pascabencana banjir dan tanah longsor di Aceh memasuki fase krusial. PT PLN (Persero) mencatat, aliran listrik telah kembali dinikmati oleh mayoritas masyarakat, menyisakan wilayah-wilayah dengan medan paling ekstrem sebagai fokus penanganan lanjutan. 

Hingga pertengahan Januari 2026, sebanyak 6.432 desa di Aceh atau sekitar 98,9 persen telah kembali teraliri listrik. Capaian ini diraih setelah sistem kelistrikan utama Aceh pulih lebih dahulu, membuka jalan bagi normalisasi jaringan hingga ke tingkat desa. 

Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, menyebut bahwa setelah sistem besar kembali stabil, tantangan utama bukan lagi pada pembangkit dan transmisi, melainkan pada akses menuju wilayah-wilayah terdampak paling parah. 

“Pemulihan saat ini berada di fase yang paling menantang. Desa-desa yang belum menyala berada di daerah dengan akses terputus akibat longsor dan banjir. Namun kami terus bergerak, mendekati titik-titik terdalam yang terdampak,” kata Darmawan. 

PLN mencatat masih ada 68 desa di delapan kabupaten yang belum terhubung kembali ke jaringan listrik permanen. Wilayah tersebut antara lain tersebar di Aceh Tengah, Bener Meriah, Gayo Lues, Aceh Tamiang, Aceh Utara, Aceh Barat, Bireuen, dan Aceh Timur. 

Kondisi geografis menjadi faktor dominan lambatnya pemulihan di wilayah ini. Jalur darat di banyak lokasi rusak berat, bahkan sebagian hilang tersapu banjir dan longsor. Data PLN menunjukkan sedikitnya terdapat 171 titik longsor serta 14 jembatan rusak yang menghambat mobilisasi material dan peralatan kelistrikan. 

General Manager PLN Unit Induk Distribusi (UID) Aceh, Eddi Saputra, menjelaskan bahwa keselamatan petugas menjadi prioritas utama di tengah kondisi medan yang belum sepenuhnya aman. 

“Perbaikan jaringan permanen membutuhkan akses alat berat dan material dalam jumlah besar. Tanpa jalur yang memadai, risiko di lapangan sangat tinggi. Karena itu kami bekerja paralel, menunggu pembukaan akses sambil memastikan pasokan listrik sementara tetap tersedia,” ujarnya. 

Sebagai solusi darurat, desa-desa yang belum tersambung jaringan permanen tetap mendapatkan pasokan listrik melalui dukungan Program 1.000 Genset dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Kehadiran genset ini memastikan aktivitas masyarakat tetap berjalan, mulai dari penerangan rumah hingga fasilitas umum. 

Fokus pemulihan jaringan permanen saat ini paling banyak berada di Aceh Tengah dengan 36 desa, disusul Bener Meriah sebanyak 13 desa, serta beberapa desa di Gayo Lues dan Aceh Tamiang. Tim teknis PLN disiagakan di titik terdekat dari lokasi longsor untuk bergerak cepat begitu akses memungkinkan. 

“Begitu jalur bisa dilewati, perbaikan tiang, kabel, dan jaringan distribusi akan langsung dilakukan. Tim kami sudah siaga di lapangan,” tambah Eddi. 

Pemerintah daerah turut mengapresiasi langkah PLN dan dukungan lintas sektor dalam menjaga pasokan listrik selama masa pemulihan. Bupati Aceh Tengah, Haili Yoga, menilai kehadiran listrik darurat menjadi faktor penting dalam menjaga aktivitas masyarakat pascabencana. 

“Di tengah kondisi yang serba terbatas, genset sangat membantu warga. Kami melihat langsung bagaimana petugas PLN bekerja di medan sulit untuk memastikan desa-desa kami tidak gelap terlalu lama,” ujarnya. 

Sebagai informasi, sistem kelistrikan utama Aceh telah lebih dulu pulih sejak pertengahan Desember 2025, ditandai dengan beroperasinya kembali seluruh gardu induk serta jaringan transmisi dan pembangkit. Pemulihan sistem inti tersebut menjadi fondasi bagi percepatan penyaluran listrik hingga ke pelosok Aceh yang terdampak bencana.

Ikuti ListrikIndonesia di GoogleNews

#PLN

Index

Berita Lainnya

Index