Tambang Nikel Terganjal B40, Vale Akui Beban Operasi Meningkat

Tambang Nikel Terganjal B40, Vale Akui Beban Operasi Meningkat
B40 Jadi Tantangan Bagi Industri Tambang

Listrik Indonesia | Kebijakan mandatori biodiesel B40 menjadi salah satu tantangan serius bagi industri pertambangan nikel nasional. Presiden Direktur & CEO PT Vale Indonesia Tbk (INCO), Bernardus Irmanto, secara terbuka mengungkapkan bahwa penerapan solar campuran kelapa sawit 40% tersebut membawa konsekuensi teknis dan finansial terhadap operasional perseroan sepanjang 2025. 

Dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi XII DPR RI, Senin (19/1/2026), Bernardus menyatakan bahwa penggunaan B40 menuntut kehati-hatian ekstra, terutama terkait keandalan dan ketahanan armada berat yang digunakan di area tambang. 

“Ada beberapa kebijakan yang dikeluarkan pemerintah yang kemudian memberikan tekanan pada biaya operasi, misalkan kita harus memakai B40. Penggunaan B40 itu memang harus dengan baik karena terkait langsung dengan reliabilitas dari alat-alat yang dioperasikan di lapangan dan kita perlu berhati-hati melihatnya,” ujar Bernardus. 

Tekanan terhadap kinerja Vale tidak berhenti pada aspek konsumsi energi. Dari sisi fiskal, perseroan juga harus menghadapi kenaikan tarif royalti seiring berlakunya Peraturan Pemerintah (PP) No. 19 Tahun 2025 tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) di sektor mineral dan batu bara. 

Melalui beleid tersebut, pemerintah menetapkan tarif royalti nikel secara progresif berdasarkan Harga Mineral Acuan (HMA). Untuk bijih nikel, tarif dipatok sebesar 14% saat HMA berada di bawah US$18.000 per ton, dan dapat meningkat hingga 19% jika harga melampaui US$31.000 per ton. Sementara produk hilirisasi seperti Nickel Pig Iron (NPI), Nickel Matte, dan Ferro Nickel (FeNi) dikenakan royalti dalam kisaran 3,5% hingga 7%. 

Kombinasi kenaikan biaya operasional akibat B40 dan beban royalti baru ini menjadi pekerjaan rumah besar bagi manajemen, terutama di tengah tren penurunan harga nikel global sepanjang 2025. 

“Hal-hal tersebut membawa pekerjaan rumah bagi kami untuk menyelesaikannya dan bagaimana kita tetap menjaga margin positif di tengah-tengah harga nikel yang turun drastis di tahun 2025,” kata Bernardus. 

Ia juga mengakui bahwa realisasi harga nikel global tidak sesuai dengan ekspektasi awal tahun. “Tantangannya adalah harga realisasi nikel sepanjang tahun 2025 ini di bawah dari apa yang kita harapkan,” imbuhnya. 

Meski dihadapkan pada tekanan berlapis, PT Vale Indonesia justru mampu menjaga kinerja operasional tetap solid. Bernardus memastikan bahwa capaian perseroan sepanjang 2025 masih sejalan dengan target Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP). 

Efisiensi biaya produksi dan optimalisasi penjualan menjadi kunci. Biaya produksi nikel matte di Sorowako berhasil ditekan di kisaran US$9.000 per ton, menjadikannya salah satu yang paling kompetitif di Indonesia. 

“Ini termasuk salah satu yang terbaik di Indonesia di dalam produksi nikel matte,” tegas Bernardus. 

Dari sisi volume, produksi nikel matte hingga November 2025 mencapai 66.848 ton atau tumbuh 3% secara tahunan. Kinerja lebih agresif terlihat pada penjualan bijih nikel saprolit dari Pomalaa dan Bahodopi, yang melonjak hingga 1,91 juta wet metric ton (wmt), jauh melampaui target RKAP sebesar 1,36 juta ton. 

Lonjakan penjualan ore tersebut turut mendorong pendapatan perseroan hingga menembus US$902 juta sepanjang 2025. 

Sebagai penutup, Bernardus menegaskan bahwa disiplin biaya dan ketepatan strategi menjadi fondasi utama Vale dalam menghadapi tekanan kebijakan dan volatilitas harga komoditas. 

“Secara kinerja, baik dalam hal produksi, penjualan ore, dan biaya, tiga variabel ini kami bisa memenuhi bahkan melebihi apa yang dicantumkan di dalam budget,” pungkasnya.

Ikuti ListrikIndonesia di GoogleNews

#PT Vale Indonesia

Index

Berita Lainnya

Index