Listrik Indonesia | Upaya penanganan sampah di kawasan Jambi Raya memasuki fase baru yang lebih progresif. Pemerintah daerah kini memperkuat sinergi lintas wilayah untuk mendorong pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL), sebagai solusi jangka panjang atas persoalan sampah perkotaan.
Langkah ini ditandai dengan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Pemerintah Provinsi Jambi, Pemerintah Kota Jambi, dan Pemerintah Kabupaten Muaro Jambi. Kesepakatan tersebut menjadi fondasi penting dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih modern, terintegrasi, dan berkelanjutan.
Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq, menegaskan bahwa keberhasilan implementasi PSEL tidak semata ditentukan oleh kesiapan teknologi. Menurutnya, faktor utama justru terletak pada komitmen pemerintah daerah dalam menjaga kesinambungan kerja sama serta memastikan rantai pasok sampah berjalan optimal.
“Pendekatan pengelolaan sampah harus berubah. Tidak lagi sekadar menumpuk di tempat pembuangan akhir, tetapi diarahkan menjadi sumber energi yang bernilai. Konsistensi daerah menjadi kunci,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Minggu (12/4/2026).
Wilayah Jambi Raya sendiri saat ini dihadapkan pada tantangan cukup besar, dengan volume sampah yang mencapai sekitar 670 ton per hari. Kondisi ini menuntut solusi yang tidak hanya efektif dalam pengurangan limbah, tetapi juga mampu memberikan manfaat tambahan bagi masyarakat.
Melalui pengembangan PSEL, seluruh timbulan sampah tersebut ditargetkan dapat diolah menjadi energi listrik. Selain menekan beban lingkungan, langkah ini juga diharapkan mampu mengurangi potensi dampak kesehatan akibat penumpukan sampah.
Gubernur Jambi, Al Haris, menyambut positif kolaborasi ini. Ia menilai kehadiran PSEL menjadi jawaban atas persoalan sampah yang selama ini bersifat kompleks dan multidimensi.
“Isu sampah bukan hanya persoalan teknis, tetapi juga berkaitan dengan perilaku dan kesadaran masyarakat. Dengan adanya PSEL, kita punya peluang untuk menyelesaikannya secara lebih komprehensif,” ujar Haris.
Kolaborasi ini diharapkan menjadi model pengelolaan sampah terpadu di daerah lain, sekaligus mendorong percepatan transisi menuju energi yang lebih ramah lingkungan di Indonesia.
