Kendaraan Niaga Jadi Motor Pertumbuhan EV

Minggu, 01 Februari 2026 | 13:28:10 WIB
Ilustrasi Ojek OnlineMenggunakan Motor Listrik

Listrik Indonesia | Sekretaris Jenderal Asosiasi Ekosistem Mobilitas Listrik (AEML) Rian Ernest optimistis terhadap masa depan pengembangan kendaraan listrik (electric vehicle/EV) di Indonesia. Optimisme itu sejalan dengan komitmen pemerintah mempercepat hilirisasi mineral, khususnya nikel, sebagai fondasi industri baterai nasional sekaligus pendukung agenda transisi energi.

Menurut Rian, pertumbuhan ekosistem EV tidak hanya bergantung pada kendaraan penumpang, melainkan juga pada sektor kendaraan niaga yang dinilai memiliki potensi pasar jauh lebih besar dan stabil.

“Pemanfaatan kendaraan niaga listrik justru bisa menjadi penopang utama penjualan EV ke depan. Perusahaan ride hailing, kurir, jasa transportasi, hingga kendaraan tambang punya kebutuhan mobilitas tinggi dan berpeluang besar beralih ke listrik,” ujar Rian dalam siaran wawancaranya, dikutip Minggu (1/2/2026).

Ia menilai masuknya banyak pemain EV ke Indonesia merupakan sinyal positif bagi industri. Kompetisi dinilai mendorong percepatan inovasi sekaligus meningkatkan pilihan bagi konsumen.

“Kalau kita lihat tiga tahun lalu merek EV masih sangat terbatas. Sekarang sudah mulai terlihat siapa pemain-pemain utamanya. Ini tanda industrinya mulai matang,” katanya.

Namun, Rian mengingatkan agar Indonesia tidak berhenti pada posisi sebagai pemasok bahan mentah. Sebagai produsen nikel terbesar dunia, Indonesia dinilai harus memastikan sumber daya tersebut diolah menjadi produk bernilai tambah, khususnya baterai kendaraan listrik.

“Sayang sekali kalau nikel hanya diekspor mentah. Kita apresiasi pengembangan industri baterai lokal. Jangan sampai kita hanya jadi pembeli EV, sementara bahan bakunya dari Indonesia tapi nilai tambahnya dinikmati negara lain,” ujarnya.

Di sisi lain, Rian menekankan pentingnya menjaga momentum di tengah perubahan teknologi baterai yang sangat cepat. Ia mencontohkan bahwa teknologi baterai saat ini sudah jauh berbeda dibandingkan dua hingga tiga tahun lalu, baik dari sisi komposisi material maupun efisiensi biaya.

“Biaya baterai terus turun, skala ekonominya mulai terbentuk. Harga EV jadi makin kompetitif. Ini yang membuat EV berkembang sangat cepat. Tapi momentum baterai berbasis nikel jangan sampai terlewat,” katanya.

Kendaraan Niaga dan Transportasi Publik

AEML menilai segmen kendaraan niaga merupakan sektor paling strategis untuk mempercepat adopsi EV secara nasional. Selain tingkat utilisasinya tinggi, sektor ini juga sensitif terhadap efisiensi biaya operasional.

“Perusahaan kurir, ride hailing, sampai tambang mulai mengonversi kendaraan berbasis mesin bakar ke listrik. Selain menurunkan emisi, faktor penghematan biaya juga besar,” jelas Rian.

Ia menambahkan, skema bisnis seperti sewa harian hingga battery as a service membuat adopsi EV lebih mudah bagi pelaku usaha. Model serupa juga dinilai relevan untuk transportasi publik di daerah.

“Beberapa pemda sudah punya skema pembayaran berbasis kilometer. Dengan EV, model bisnisnya tidak jauh berbeda. Tinggal didorong dengan insentif yang tepat, misalnya kemudahan pajak,” ujarnya.

Tantangan Daya Saing Industri

Meski potensi pasar besar, Rian menilai tantangan utama terletak pada daya saing industri manufaktur nasional. Menurutnya, produktivitas tenaga kerja, kepastian regulasi, serta kepastian hukum menjadi faktor krusial agar Indonesia tidak kehilangan momentum investasi.

“Kita tidak bisa hanya bangga sebagai produsen nikel terbesar. Kita harus bergeser ke manufaktur yang kompetitif dan berstandar ESG baik,” katanya.

Ia juga menyoroti pentingnya kesiapan industri dalam mengelola limbah baterai. Tanpa sistem daur ulang yang memadai, baterai bekas justru berpotensi menjadi persoalan lingkungan baru.

“Jangan sampai kita memproduksi baterai bagus tapi tidak bisa didaur ulang. Kalau bisa recycle-nya jalan, nilai tambah industri kita akan jauh lebih tinggi di mata global,” ujar Rian.

Rian mengakui masih banyak kesalahpahaman publik terkait kendaraan listrik, mulai dari isu kebakaran hingga kekhawatiran saat melewati banjir.

“Sekarang sudah banyak bukti di lapangan, motor listrik bisa tetap melaju saat banjir. Sistem manajemen baterai juga makin aman. Risiko bisa ditekan selama perangkat pengisian dayanya sesuai standar,” katanya.

Soal harga, ia menilai persepsi EV mahal mulai tidak relevan. Harga mobil dan motor listrik kini semakin kompetitif dibanding beberapa tahun lalu.

“Sekarang mobil listrik sudah ada yang di bawah Rp300 juta, motor listrik juga jauh lebih terjangkau. Dari sisi kenyamanan dan biaya operasional, EV justru lebih ekonomis,” ujarnya.

Pendekatan Ekosistem

Dalam mendorong adopsi EV, AEML memilih pendekatan berbasis ekosistem. Asosiasi ini menaungi berbagai pelaku, mulai dari produsen baterai, kendaraan roda dua dan empat, hingga lembaga pembiayaan.

“Kami percaya EV tidak bisa dikembangkan secara sektoral. Harus dilihat sebagai satu ekosistem, dari hulu sampai hilir,” kata Rian.

Menurutnya, percepatan adopsi EV tidak hanya soal industri, tetapi juga terkait upaya menekan emisi dan memperbaiki kualitas lingkungan.

“EV ini hal baru dan butuh pendekatan menyeluruh. Kita ingin adopsinya lebih cepat, karena kita juga punya pekerjaan rumah besar soal lingkungan,” pungkasnya.

Tags

Terkini

Investasi Hulu Migas Masih Dominan hingga 2050

Minggu, 01 Februari 2026 | 14:32:54 WIB

Apa Saja Tugas dan Wewenang Dewan Energi Nasional?

Minggu, 01 Februari 2026 | 14:31:39 WIB

Kilang Balongan Jadi Simpul Distribusi BBM Jawa

Minggu, 01 Februari 2026 | 13:45:16 WIB

Kendaraan Niaga Jadi Motor Pertumbuhan EV

Minggu, 01 Februari 2026 | 13:28:10 WIB

Dirjen EBTKE Ungkap Papua Siap Suplai Bahan Baku Bioetanol

Minggu, 01 Februari 2026 | 08:06:31 WIB