Listrik Indonesia | Di tengah tingginya kebutuhan energi nasional, jalur distribusi menjadi faktor krusial yang kerap luput dari perhatian publik. Salah satu titik penting dalam mata rantai tersebut berada di pesisir Indramayu, yakni Terminal Khusus (Tersus) Kilang Balongan milik PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) Refinery Unit (RU) VI Balongan.
Fasilitas ini berperan sebagai gerbang keluar masuk produk hasil pengolahan kilang, mulai dari bahan bakar minyak (BBM), bahan bakar khusus (BBK), hingga produk non-BBM dan petrokimia. Dari dermaga khusus ini, produk energi dikapalkan ke berbagai daerah, terutama Jakarta, Banten, dan wilayah Jawa bagian barat, serta sejumlah kota di luar Pulau Jawa.
Aktivitas rutin di terminal tersebut antara lain pemuatan produk ke kapal tanker. Salah satu proses yang dilakukan pekan ini adalah pengisian Avtur ke kapal milik Pertamina International Shipping (PIS), sebagai bagian dari pengiriman ke beberapa wilayah tujuan.
Section Head Supply Chain & Distribution KPI RU VI Balongan, Ahmad Reza, mengatakan distribusi Avtur dari Balongan tidak hanya difokuskan untuk wilayah Jabodetabek, tetapi juga menopang kebutuhan kota-kota lain seperti Pontianak, Banjarmasin, Kotabaru, hingga kawasan Indonesia timur.
“Setiap pengiriman diawali dengan perencanaan kebutuhan wilayah, kemudian dilakukan pemuatan di terminal Balongan. Setelah seluruh tahapan selesai dan diverifikasi, kapal diberangkatkan sesuai jadwal,” ujar Reza.
Ia menambahkan, seluruh proses pemuatan hingga pelayaran dijalankan berdasarkan standar keselamatan dan prosedur operasi yang ketat. Pengawasan dilakukan secara berlapis untuk memastikan produk sampai ke tujuan dalam kondisi aman dan sesuai spesifikasi.
Dari sisi produksi, Kilang Balongan merupakan kilang dengan tingkat kompleksitas tertinggi di Indonesia. Fasilitas ini mampu mengolah minyak mentah hingga 150 ribu barel per hari, menghasilkan berbagai produk seperti gasoline, gasoil, avtur, serta produk petrokimia dan non-BBM seperti propilena dan LPG.
Sekitar 82 persen hasil produksinya disalurkan untuk memenuhi kebutuhan Jakarta dan Jawa Barat, sementara sisanya dikirim ke wilayah lain di Indonesia serta untuk ekspor produk tertentu, seperti decant oil.
Selain jetty di daratan, Kilang Balongan juga didukung fasilitas Single Point Mooring (SPM) yang terletak sekitar 18 kilometer dari pantai. SPM berfungsi sebagai titik sandar kapal tanker pengangkut minyak mentah maupun sebagian produk jadi, yang terhubung langsung ke kilang melalui jaringan pipa bawah laut.
Terdapat tiga unit SPM dengan kapasitas berbeda, yang dapat melayani kapal mulai dari 17.500 DWT hingga 165.000 DWT. SPM terbesar bahkan mampu menampung kapal dengan muatan mendekati satu juta barel, menjadikannya tulang punggung pasokan bahan baku kilang.
Dalam operasinya, faktor cuaca dan kondisi laut menjadi variabel penting. Pergerakan kapal dipantau melalui sistem pelacakan berbasis GPS untuk menjaga ketepatan waktu serta mengurangi risiko gangguan distribusi.
“Pengiriman energi bukan sekadar soal volume, tapi juga ketepatan dan keamanan. Karena itu setiap tahapan selalu diawasi dan diverifikasi,” kata Reza.
Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero) Muhammad Baron menyebutkan, Kilang Balongan memiliki posisi strategis dalam jaringan infrastruktur hilir Pertamina. Lokasinya berdekatan dengan lapangan migas Pertamina EP dan Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ), yang menjadi salah satu sumber pasokan minyak mentah.
Di sisi hilir, hasil produksi kilang ini juga terserap oleh konsumen industri seperti PT Polytama Propindo, serta disalurkan melalui Integrated Terminal Balongan untuk memenuhi kebutuhan BBM dan LPG masyarakat.
“Fasilitas-fasilitas ini saling terhubung dalam satu ekosistem. Hulu menyediakan bahan baku, kilang mengolah, dan terminal memastikan distribusi berjalan lancar,” ujar Baron.
Ia menegaskan, integrasi tersebut menjadi bagian dari upaya optimalisasi aset Pertamina agar pelayanan energi ke masyarakat dapat berjalan lebih efisien dan berkelanjutan.
Sejalan dengan strategi perusahaan, Pertamina juga terus mengaitkan operasional kilang dan terminalnya dengan agenda transisi energi dan keberlanjutan. Komitmen menuju target Net Zero Emission 2060 dilakukan melalui penguatan tata kelola, pengurangan dampak lingkungan, serta penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) di seluruh lini bisnis.
Dengan peran sebagai simpul maritim distribusi energi, Terminal Khusus Kilang Balongan tidak hanya menjadi fasilitas teknis, tetapi juga bagian penting dari sistem yang menjaga kesinambungan pasokan energi nasional, dari pesisir Indramayu hingga ke berbagai pelosok Indonesia.

