Current Date: Minggu, 01 Februari 2026

Investasi Hulu Migas Masih Dominan hingga 2050

Investasi Hulu Migas Masih Dominan hingga 2050
Offshore Migas.

Listrik Indonesia | Direktur Utama PT Pertamina Drilling Services Indonesia (Pertamina Drilling), Avep Disasmita mengungkapkan bahwa industri hulu minyak dan gas bumi (migas) masih akan menjadi penopang utama penyediaan energi global dalam beberapa dekade ke depan. Hal tersebut ia ungkapkan dalam Scope Upstream Excellence Forum yang digelar di Grha Pertamina, Jakarta, dikutip pada Minggu (01/02/2026).

Dalam forum bertema “Potensi dan Tantangan Masa Depan Industri Hulu Migas dalam Mewujudkan Swasembada Energi” tersebut, Avep menyampaikan bahwa meskipun dunia tengah memasuki fase transisi energi, kebutuhan terhadap minyak dan gas bumi masih tetap signifikan. Kondisi ini, menurutnya, menjadi dasar mengapa investasi di sektor hulu migas masih memiliki peran strategis dalam menjaga ketahanan energi.

“Kami memiliki tanggung jawab untuk mendeliver sumur secara aman, efisien, dan berkelanjutan. Di saat yang sama, Pertamina Drilling ingin menjadi mitra strategis pemerintah dalam mendukung ketahanan dan swasembada energi nasional,” ujar Avep dalam presentasinya.

Avep menjelaskan bahwa arah pengembangan energi global saat ini dipengaruhi oleh dua faktor utama, yakni energy security dan dekarbonisasi. Kedua faktor tersebut membentuk dinamika kebutuhan energi dunia, termasuk menentukan keberlanjutan peran migas dalam bauran energi global.

Mengacu pada OPEC World Oil Outlook 2025, Avep menyampaikan bahwa hingga 2050 sekitar 50 persen kebutuhan energi global masih akan bergantung pada minyak dan gas bumi, meskipun kontribusi energi baru terbarukan (EBT) terus meningkat.

“Ini menunjukkan bahwa migas masih akan menjadi backbone energi global dalam dekade mendatang. Karena itu, industri hulu migas tetap memiliki peran strategis, termasuk di Indonesia,” kata Avep.

Ia menambahkan bahwa kondisi tersebut menuntut perusahaan jasa pengeboran untuk beradaptasi melalui strategi pertumbuhan ganda atau dual-growth strategy. Strategi ini tidak hanya berfokus pada optimalisasi eksploitasi migas dengan pendekatan rendah karbon, tetapi juga mendorong keterlibatan dalam bisnis dekarbonisasi.

“Pertamina Drilling tidak hanya fokus pada efisiensi teknologi pengeboran, tetapi juga mulai mengembangkan green drilling, keterlibatan di proyek geothermal, serta carbon capture, storage, and sequestration (CCS),” ujarnya.

Dalam konteks nasional, Avep menilai tren kebutuhan energi Indonesia masih sejalan dengan dinamika global. Proyeksi menunjukkan kebutuhan energi nasional hingga 2034 tumbuh sekitar 5 persen per tahun, dengan bauran energi yang masih didominasi migas dan batu bara, meskipun peran EBT terus meningkat.

“Ini menegaskan bahwa perusahaan jasa migas harus adaptif, mampu menjawab kebutuhan energi hari ini sekaligus menyiapkan diri menghadapi masa depan,” ujar Avep.

Saat ini, Pertamina Drilling mengoperasikan sekitar 57 rig yang terdiri dari 53 rig onshore, dua rig offshore jenis jack-up, serta dua rig offshore workover yang beroperasi di wilayah lepas pantai Jawa dan Sumatera. Perusahaan juga menjalin strategic alliance dengan ADES, perusahaan jack-up rig dari Timur Tengah, dan telah mengoperasikan dua unit jack-up secara konsorsium, termasuk rencana operasi di Natuna.

Selain itu, Pertamina Drilling memiliki lebih dari 110 unit jasa penunjang pengeboran, antara lain directional drilling, fracturing, dan cementing. Avep menyampaikan bahwa perusahaan menargetkan menjadi penyedia jasa pengeboran dan energi kelas dunia melalui konsep one-stop solution berbasis integrated project management.

“Dengan pengalaman belasan tahun di onshore, Pertamina Drilling merupakan salah satu pemilik armada rig onshore terbesar di Asia Tenggara dan beroperasi dari Sumatera hingga Papua,” kata Avep.

Seiring dengan penguatan kapabilitas tersebut, Pertamina Drilling juga mulai melakukan ekspansi ke pasar internasional, termasuk ke Malaysia dan Timor Leste, serta menjajaki peluang kerja sama di kawasan Timur Tengah dan Afrika.

Forum tersebut turut dihadiri sejumlah pimpinan Subholding Upstream Pertamina, antara lain Direktur Pengembangan dan Produksi PT Pertamina Hulu Energi (PHE) Mery Luciawaty, Direktur SDM dan Penunjang Bisnis PHE Eri Sulistyo Sutikno, serta Direktur Utama PT Elnusa Tbk Litta Indriya Ariesca. Melalui forum ini, Pertamina Drilling menegaskan komitmennya untuk memperkuat upstream excellence, mendukung agenda swasembada energi nasional, serta berperan dalam transisi energi yang berkelanjutan.

Ikuti ListrikIndonesia di GoogleNews

#Migas

Index

Berita Lainnya

Index