Listrik Indonesia | Pemerintah Indonesia resmi menyepakati pembelian produk energi dari Amerika Serikat senilai USD 15 miliar atau sekitar Rp 253 triliun per tahun. Kesepakatan ini menjadi bagian dari Agreement on Reciprocal Trade (ART) bertajuk “Toward a New Golden Age for the US–Indonesia Alliance”, yang menandai babak baru kerja sama dagang kedua negara.
Anggota Dewan Energi Nasional (DEN), Satya Widya Yudha, menegaskan bahwa kebijakan tersebut bukan penambahan impor energi, melainkan realokasi sumber pasokan. Selama ini, Indonesia banyak mengimpor minyak mentah, BBM, dan LPG dari kawasan Timur Tengah dan sebagian negara ASEAN. Dengan kesepakatan baru ini, sebagian pasokan tersebut dialihkan ke Amerika Serikat.
“Ini lebih kepada pergeseran pasar tradisional, bukan menambah volume impor. Jadi masyarakat tidak perlu khawatir bahwa impor energi kita melonjak,” ujar Satya dalam siaran wawancaranya, dikutip Jumat (27/2/2026).
Menurut Satya, peralihan pasokan LPG ke Amerika Serikat justru memiliki rasionalitas komersial. Harga LPG dari AS mengacu pada indeks Mont Belvieu, yang selama ini relatif lebih rendah dibandingkan harga LPG dari Timur Tengah yang menggunakan patokan CPR Aramco.
Sebagai ilustrasi, harga LPG spot dari AS bisa berada di kisaran USD 310 per metrik ton, sementara dari Timur Tengah dapat menembus USD 400 per metrik ton. Meski jarak pengiriman dari AS lebih jauh, perbedaan harga dasar tersebut dinilai tetap memberikan keuntungan bagi Indonesia.
Kesepakatan ini juga dinilai strategis karena membuka peluang investasi dan alih teknologi dari perusahaan-perusahaan energi Amerika Serikat ke Indonesia. Pemerintah berharap kerja sama ini dapat membantu meningkatkan produksi migas nasional, terutama di wilayah yang selama ini sulit dijangkau teknologi konvensional.
“Indonesia punya banyak ladang migas tua di bagian barat, dan potensi besar di Indonesia timur yang memerlukan teknologi tinggi untuk eksplorasi dan eksploitasi. Di sinilah peran transfer teknologi menjadi penting,” jelas Satya.
Ia juga menyinggung rencana pemerintah untuk mengaktifkan kembali sumur-sumur tua dan sumur idle, sejalan dengan pernyataan Menteri ESDM sebelumnya. Teknologi dari Amerika Serikat diharapkan mampu mendongkrak produksi minyak dan gas bumi nasional.
Selain aspek migas, kerja sama ini juga dipandang sejalan dengan agenda transisi energi. Dengan meningkatnya produksi gas bumi dalam negeri, Indonesia berpeluang menekan impor LPG dalam jangka menengah.
Tak hanya itu, skema ART juga mencakup kemudahan tarif untuk sejumlah komoditas. Beberapa produk Indonesia ke pasar Amerika Serikat mendapat tarif nol persen, begitu pula sebaliknya. Untuk sektor migas, hal ini berarti peralatan dan teknologi eksplorasi bisa masuk ke Indonesia dengan biaya lebih kompetitif.
Satya menilai dampak langsung bagi masyarakat akan terasa dalam bentuk stabilitas pasokan energi dan potensi harga yang lebih terkendali, terutama untuk LPG. Dalam jangka panjang, jika produksi migas nasional meningkat, ketergantungan impor dapat ditekan secara bertahap.
“Tujuan jangka panjang kita tetap swasembada energi. Tapi dalam jangka pendek, yang penting adalah pasokan aman, harga terkendali, dan teknologi masuk untuk memperkuat produksi dalam negeri,” ujarnya.
Dengan nilai transaksi energi mencapai sekitar separuh dari total kesepakatan dagang RI–AS yang mencapai USD 33 miliar, kerja sama ini menunjukkan bahwa sektor energi menjadi tulang punggung hubungan ekonomi kedua negara. Pemerintah berharap momentum ini tidak hanya memperkuat perdagangan, tetapi juga menjadi katalis bagi kebangkitan industri migas nasional di era transisi energi.