Listrik Indonesia | Profesor Riset Bidang Teknologi Proses Elektrokimia, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Dr. Eng. Eniya Listiani mengungkapkan contoh sukses dari Australia yang berhasil mengkonversi batu bara menjadi hidrogen, bahkan inovasi tersebut berhasil membuka peluang ekspor hidrogen Australia ke Jepang. Hal tersebut ia ungkapkan saat diwawancarai, Selasa (28/11/2023).
“Indonesia kalau mau bergerak ke green energi, batu bara tidak usah berkecil hati, karena di Australia mengkonversi batu bara menjadi hidrogen dan saat ini dikirim ke Jepang,” ungkapnya.
Prof. Eniya mendorong para pengusaha dapat beralih dari penjual batu bara mentah menjadi liquid hydrogen.
“jadi pengusaha bukan terus menghambat renewable energi, tetapi dia pun harus shifting industry dari dia menjadi penjual batu bara tetapi memproses batu baranya di dalam negeri menjadi liquid hydrogen,” katanya.
Sebagai informasi tambahan, bara dapat dikonversi menjadi hidrogen melalui suatu proses yang disebut gasifikasi batu bara. Gasifikasi batu bara adalah suatu teknologi di mana batu bara diubah menjadi gas sintetis yang dapat terdiri dari hidrogen, karbon monoksida, metana, dan gas-gas lainnya. Proses ini biasanya melibatkan reaksi kimia batu bara dengan agen gasifikasi seperti uap air, oksigen, atau campuran keduanya pada suhu tinggi.
Keuntungan dari perubahan ini adalah memungkinkan Indonesia untuk mengekspor hidrogen dalam bentuk cair atau gas, sehingga membuka peluang baru dalam perdagangan energi internasional.
“dia bisa mengekspor hidrogen dalam bentuk cair atau mengirim ke hidrogen ke mana2 dalam bentuk gas,” ujarnya.
Profesor Eniya menekankan bahwa Australia telah meloncati Indonesia dalam penjualan hidrogen ke Jepang, dan dengan memiliki sumber batu bara di Kalimantan, Indonesia seharusnya tidak ketinggalan.
“Sudah dicontohkan di Australia, nah Australia ini menjual ke Jepang itu kan meloncati kita dan kita punya batu bara di Kalimantan, masa kita ga bisa,” pungkasnya.
