Listrik Indonesia | Vice President Director PT Huadian Bukit Asam Power, Dody Arsadian mengungkapkan bahwa dalam upaya dekarbonisasi, Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Tanjung Lalang menggunakan dua teknologi andalan, yaitu teknologi supercritical dan Flue Gas Desulfurization (FGD). Hal tersebut ia ungkapkan kepada Listrik Indonesia, Kamis (09/11/2023).
“Sektor ketenagalistrikan antara lain PLTU berbahan bakar Batu bara kerap dapat dituding sebagai penyebab polusi udara dan menjadi salah satu sorotan dalam isu emisi gas buang. Padahal, kita juga harus mengetahui apa saja penyebab peningkatan polusi udara oleh faktor-faktor lain. Kita juga ikhtiar lebih efisien dalam penggunaan Batu bara, serta langkah transisi energi” ungkapnya.
Awalnya PLTU Tanjung Lalang berencana menggunakan teknologi sub critical, namun dalam perjalanannya berubah menjadi supercritical. Tidak hanya itu, penggunaan teknologi tersebut juga menimbulkan pertanyaan ‘mengapa tidak menggunakan teknologi ultracritical?’.
“Memang terdapat pertanyaan mengapa PLTU Tanjung Lalang tidak menggunakan ultracritical? Kami sadar harus mempertimbangkan besaran investasi serta jenis ketersediaan Batu bara terbaik sesuai konsep Pembangkit Mulut Tambang, sehingga optimalnya menggunakan teknologi supercritical” ujarnya.
PLTU Tanjung Lalang didirikan oleh PT Huadian Bukit Asam Power (HBAP) sebagai hasil kerjasama strategis antara PT Bukit Asam Tbk (PTBA) dan China Huadian Hongkong Company Ltd (CHDHK). CHDHK memiliki kepemilikan saham sebanyak 55 persen dan PT Bukit Asam Tbk (PTBA) dengan kepemilikan saham sebanyak 45 persen. Proses konstruksi dari PLTU Tanjung Lalang telah dimulai pada bulan Juni 2018.
PLTU Tanjung Lalang yang memiliki kapasitas terpasang sebesar 2X660 MW menjadi tambahan pasokan listrik bagi Pulau Sumatera. PT PLN telah menetapkan Commercial Operation Date (COD) PLTU Tanjung Lalang pada tanggal 7 Oktober 2023, penetapan tersebut menandakan bahwa semua unit telah beroperasi secara komersial.
Keberadaan PLTU Tanjung Lalang yang merupakan bagian dari Program Pembangunan Pembangkit Listrik 35.000 MW, terletak di Kabupaten Muara Enim, Provinsi Sumatera Selatan. PLU Tanjung Lalang diharapkan dapat memberikan manfaat dalam meningkatkan keandalan sistem kelistrikan di wilayah Sumatera.
