Listrik Indonesia | Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia melaporkan capaian positif dalam lifting minyak bumi selama empat bulan pertama masa jabatannya. Ia menyebut lifting minyak mencapai 600 ribu barrel oil per day (BOPD), meningkat 25 ribu BOPD dari angka sebelumnya, yakni 575 ribu BOPD.
“Dalam dua bulan terakhir, November-Desember, kita sudah mencapai 600-602 ribu BOPD. Doakan saja semoga ini menjadi angin segar untuk mencapai target 2025,” ujar Bahlil di kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (3/1/2024).
Namun, klaim ini memunculkan pertanyaan kritis: apakah capaian ini cukup signifikan untuk menjawab tantangan sektor migas yang terus menghadapi penurunan produksi?
Target Ambisius APBN 2025
Bahlil juga mengungkapkan bahwa target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk lifting minyak pada 2025 ditetapkan sebesar 605 ribu BOPD. Ia optimis target ini bisa tercapai meskipun rekam jejak lifting seringkali tidak sesuai dengan proyeksi.
“Kami yakin target ini bisa tercapai, meski kenyataannya selama ini realisasi lifting seringkali lebih rendah dari target APBN,” tegas Bahlil.
Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto, menambahkan bahwa target lifting migas pada 2025 mencapai 1.610 ribu barrel oil equivalent per day (BOEPD). Angka tersebut terdiri dari 605 ribu BOPD minyak dan 1.005 ribu BOEPD gas.
“Target ini mencerminkan komitmen Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) yang harus dipenuhi. Setiap KKKS memiliki tanggung jawab untuk meningkatkan produksi,” ujar Djoko dalam keterangannya (1/1/2024).
Realitas di Lapangan
SKK Migas optimis target ini bisa tercapai melalui berbagai strategi, seperti pengeboran masif, stimulasi sumur, reaktivasi lapangan idle, hingga penerapan teknologi Enhanced Oil Recovery (EOR) dan Improved Oil Recovery (IOR). Selain itu, SKK Migas akan memberlakukan sistem reward dan punishment bagi KKKS sebagai upaya meningkatkan kinerja.
Meski demikian, sejarah menunjukkan bahwa capaian lifting sering kali di bawah ekspektasi, memunculkan kekhawatiran tentang keberlanjutan produksi dalam jangka panjang. Terlebih lagi, sektor migas di Indonesia terus menghadapi tantangan berupa lapangan tua, biaya operasional tinggi, dan daya tarik investasi yang menurun. (KDR)
Bahlil Klaim Lifting Minyak Tembus 600 Ribu Barel
Ilustrasi
