Stagnan di 53 Juta Ton, Industri Sawit Butuh Terobosan

Stagnan di 53 Juta Ton, Industri Sawit Butuh Terobosan
Ilustrasi Perkebunan Sawit/Dok.Ist

Listrik Indonesia | Produksi kelapa sawit nasional yang stagnan di angka 53 juta ton mendorong Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) untuk terus menggenjot upaya riset dan pengembangan. Ketua Bidang Riset dan Pengembangan GAPKI, Dwi Asmono, menegaskan bahwa langkah-langkah inovatif tak hanya dilakukan di sektor hulu, melainkan juga menyentuh sektor hilir dengan berbagai produk turunan kelapa sawit, termasuk pengembangan energi terbarukan seperti biodiesel. 

“Inovasi kami tidak berhenti pada bibit unggul dan pengendalian hama penyakit saja. Kami juga masuk ke sektor hilir, mulai dari pengolahan biodiesel hingga potensi ke arah B100,” ujar Dwi dalam siaran dialognya, dikutip Minggu, (3/8). 

Hilirisasi Jadi Andalan 

Indonesia disebut telah melangkah agresif dalam proses hilirisasi kelapa sawit. Saat ini, hanya sekitar 10 persen dari total ekspor sawit nasional yang masih berbentuk bahan mentah. Selebihnya sudah berupa produk olahan. 

“Sudah ada hampir 200 jenis produk hilir kelapa sawit yang bisa dikembangkan, dari biodiesel, bio-stimulan hingga bioavtur,” kata Dwi. 

Namun, ia mengakui, tantangan terbesar dalam hilirisasi adalah menentukan produk mana yang memiliki pasar menjanjikan. Untuk itu, kolaborasi dengan para inovator dan pelaku riset menjadi krusial agar hasil pengembangan benar-benar tepat sasaran. 

Riset dan Dukungan Pemerintah Jadi Kunci 

Menurut GAPKI, pemerintah memiliki peran vital dalam mendukung riset dan inovasi. Salah satu contoh yang pernah dilakukan adalah kerja sama BUMN untuk mengembangkan bioavtur, yang sempat diuji coba oleh maskapai Garuda Indonesia. 

Namun, GAPKI juga mengingatkan bahwa kekuatan sektor hulu tetap menjadi fondasi. Jika sektor hulu lemah, maka hilirisasi yang kuat pun tidak akan bisa dicapai. 

Data menunjukkan, rata-rata produktivitas kelapa sawit nasional hanya sekitar 4 ton per hektare per tahun. Padahal, secara ilmiah, potensi produktivitas bisa mencapai 8 hingga 9 ton per hektare. 

“Artinya, ada celah yang sangat besar. Ini yang harus kita perbaiki lewat teknologi, edukasi petani, dan penggunaan bibit unggul,” jelas Dwi. 

Limbah Pun Bisa Jadi Energi 

Salah satu potensi besar yang kini terus dikembangkan adalah pemanfaatan limbah sawit. Hampir semua bagian dari tanaman sawit dapat dimanfaatkan. Limbah padat bisa diubah menjadi biokarbon, sedangkan limbah cair dapat dikonversi menjadi pupuk atau biogas. 

“Inilah keunggulan sawit. Tidak ada yang benar-benar terbuang,” katanya. 

Seiring dengan moratorium pembukaan lahan sawit baru yang diberlakukan pemerintah, GAPKI mengalihkan fokus pada intensifikasi lahan yang sudah ada. Optimalisasi menjadi kata kunci, terutama dengan mempersempit kesenjangan produktivitas antara perkebunan rakyat dan perusahaan besar. 

Riset menunjukkan, gap produktivitas antara petani dan perusahaan besar masih sangat lebar, yaitu sekitar 47 persen di perkebunan rakyat dan 37 persen di perkebunan besar. 

“Dengan perbaikan manajemen, pendampingan, dan riset yang tepat, potensi peningkatan produksi sangat besar tanpa harus membuka lahan baru,” tegas Dwi. 

GAPKI berharap dengan sinergi antara industri, pemerintah, dan peneliti, Indonesia tak hanya mampu menjaga posisinya sebagai produsen kelapa sawit terbesar dunia, tapi juga menjadi pemimpin dalam inovasi berbasis sawit berkelanjutan.

Ikuti ListrikIndonesia di GoogleNews

#Sawit

Index

Berita Lainnya

Index