Strategi PLN Diklaim Kurang Efektif Genjot Pertumbuhan Ekonomi, Ketum METI Usulkan Hal Ini

Strategi PLN Diklaim Kurang Efektif Genjot Pertumbuhan Ekonomi, Ketum METI Usulkan Hal Ini
Ketua Umum Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI), Zulfan Zahar dalam Podcast Bincang Energi di Youtube Listrik Indonesia.

Listrik Indonesia | Ketua Umum Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI), Zulfan Zahar mengungkapkan bahwa METI mengusulkan perubahan pendekatan perencanaan kelistrikan nasional dari pola demand create supply menjadi supply create demand. Hal tersebut ia ungkapkan dalam Podcast Bincang Energi di Youtube Listrik Indonesia, dikutip pada Rabu (27/01/2026).

Zulfan menjelaskan bahwa selama ini PLN masih menerapkan konsep demand create supply, di mana kebutuhan listrik ditentukan terlebih dahulu sebelum pasokan disiapkan. Menurutnya, pola tersebut menimbulkan persoalan dalam praktik. 

“Selama ini, kami sering menyampaikan bahwa PLN masih menggunakan konsep demand create supply, yaitu kebutuhan listrik ditentukan terlebih dahulu, baru kemudian pasokan disiapkan,” ujarnya.

Ia menilai pendekatan tersebut menyebabkan ketidaksinkronan antara kebutuhan dan ketersediaan listrik. Zulfan memberi contoh situasi ketika permintaan daya muncul secara mendadak. 

“Kebutuhan bisa datang tiba-tiba ke meja PLN, misalnya ada permintaan 100 MW, lalu jawabannya adalah pasokan tersebut baru bisa disiapkan puluhan tahun ke depan. Ini jelas menjadi persoalan,” kata dia.

Sebagai alternatif, METI mengusulkan agar perencanaan kelistrikan menggunakan pendekatan supply create demand. Menurut Zulfan, pendekatan ini berangkat dari asumsi bahwa pertumbuhan ekonomi akan terus terjadi setiap tahun dan perlu diantisipasi dengan penyediaan pasokan listrik sejak awal. 

“Karena itu, kami mengusulkan agar pendekatan tersebut dibalik menjadi supply create demand,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa pertumbuhan ekonomi sangat dipengaruhi oleh sektor industri, sementara pertumbuhan industri berkorelasi langsung dengan peningkatan kebutuhan listrik. 

“Pertumbuhan ini salah satunya didorong oleh sektor industri. Ketika industri tumbuh, kebutuhan listrik juga akan meningkat, sejalan dengan target pertumbuhan ekonomi 8 persen,” jelas Zulfan.

Zulfan juga menyoroti pentingnya kepastian pasokan listrik bagi pelaku industri. Menurutnya, ketidakjelasan pasokan dapat memengaruhi keputusan investasi. 

“Namun, jika saya sebagai pelaku industri datang ke Indonesia dan mendapati bahwa kepastian pasokan listrik belum jelas, maka sangat mungkin saya memilih untuk berpindah ke negara lain,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa kondisi tersebut berpotensi berdampak pada pencapaian target pertumbuhan ekonomi nasional. 

“Jika hal itu terjadi, pertumbuhan industri akan terhambat dan pada akhirnya target pertumbuhan ekonomi berpotensi tidak tercapai,” kata Zulfan.

Ikuti ListrikIndonesia di GoogleNews

#Listrik

Index

Berita Lainnya

Index