Listrik Indonesia | Operational Expenditure (Opex) merupakan komponen biaya yang memiliki peran penting dalam analisis dan pengambilan keputusan investasi di sektor energi. Opex merujuk pada seluruh pengeluaran operasional yang bersifat berulang dan diperlukan untuk menjalankan serta menjaga kinerja suatu fasilitas energi setelah aset tersebut selesai dibangun dan mulai beroperasi. Berbeda dengan pengeluaran modal awal, Opex muncul secara konsisten sepanjang umur operasional proyek.
Dalam konteks investasi sektor energi, Opex mencakup berbagai biaya yang berkaitan langsung dengan aktivitas operasional harian. Biaya tersebut antara lain gaji dan tunjangan tenaga kerja operasional, biaya bahan bakar atau utilitas, pemeliharaan dan perbaikan peralatan, serta pengeluaran administratif yang mendukung kelangsungan operasi fasilitas energi. Seluruh komponen ini diperlukan untuk memastikan sistem energi berfungsi sesuai dengan desain teknis dan standar kinerja yang ditetapkan.
Secara akuntansi dan finansial, Opex dicatat sebagai beban operasional dalam laporan laba rugi pada periode berjalan. Biaya ini tidak dikapitalisasi sebagai aset dan tidak mengalami depresiasi, karena tidak menghasilkan manfaat ekonomi jangka panjang dalam bentuk aset fisik. Karakteristik ini membedakan Opex dari Capital Expenditure (Capex), yang merupakan pengeluaran untuk pembangunan, peningkatan, atau perolehan aset energi berumur panjang, seperti pembangkit listrik atau infrastruktur jaringan.
Perbedaan antara Opex dan Capex menjadi aspek penting dalam analisis kelayakan proyek energi. Capex umumnya berdampak besar pada arus kas di tahap awal proyek dan memengaruhi struktur pembiayaan serta tingkat risiko investasi. Sebaliknya, Opex memengaruhi biaya operasional jangka panjang dan profitabilitas proyek selama masa operasi. Oleh karena itu, proyeksi Opex yang akurat menjadi faktor krusial dalam penilaian keberlanjutan finansial suatu investasi energi.
Dalam praktiknya, komposisi Opex dapat berbeda antar jenis teknologi energi. Pada pembangkit listrik berbasis bahan bakar fosil, Opex umumnya didominasi oleh biaya bahan bakar dan pemeliharaan peralatan. Sementara itu, pada pembangkit energi terbarukan seperti surya atau angin, Opex relatif lebih rendah dan lebih banyak terkait dengan biaya pemeliharaan serta pengelolaan sistem. Perbedaan struktur biaya ini turut memengaruhi daya saing ekonomi masing-masing teknologi energi.
Opex juga menjadi komponen utama dalam berbagai metode evaluasi ekonomi proyek energi, termasuk perhitungan Levelized Cost of Energy (LCOE). Dalam metode ini, Opex dihitung sebagai biaya tahunan yang didiskontokan sepanjang umur aset dan dibandingkan dengan total produksi energi. Dengan demikian, efisiensi pengelolaan Opex secara langsung berpengaruh terhadap biaya energi per satuan dan daya saing proyek di pasar.
Secara keseluruhan, Operational Expenditure merupakan elemen fundamental dalam investasi sektor energi yang menentukan kinerja operasional dan keberlanjutan finansial proyek. Pemahaman yang komprehensif terhadap struktur dan dinamika Opex memungkinkan investor, pengembang, dan pembuat kebijakan untuk menyusun strategi biaya yang lebih efektif serta mendukung pengambilan keputusan investasi energi yang rasional dan berbasis data.

