Current Date: Minggu, 01 Februari 2026

Teknologi HVDC Jadi Solusi Hubungkan Transmisi Jawa dan Sumatra

Teknologi HVDC Jadi Solusi Hubungkan Transmisi Jawa dan Sumatra
High Voltage Direct Current (HVDC).

Listrik Indonesia | Senior Engineering Manager Business Unit Grid Integration Hitachi Energy Indonesia, Ustika Anggoro mengungkapkan bahwa teknologi High Voltage Direct Current (HVDC) dinilai menjadi solusi paling memungkinkan untuk mendukung rencana interkoneksi sistem kelistrikan Jawa–Sumatra. Hal tersebut ia ungkapkan kepada jurnalis Majalah Listrik Indonesia, dikutip pada Kamis (29/01/2026).

Interkoneksi ini dibutuhkan untuk menyeimbangkan pasokan dan beban listrik antarwilayah, mengingat kapasitas pembangkitan di Jawa dan Sumatra relatif besar namun distribusi bebannya tidak merata.

Ustika menjelaskan bahwa interkoneksi antara sistem kelistrikan Jawa dan Sumatra diperlukan untuk menyeimbangkan pasokan dan kebutuhan listrik antarwilayah. Jawa memiliki kapasitas pembangkitan yang besar, sementara Sumatra juga memiliki pembangkit signifikan namun tingkat bebannya relatif lebih rendah.

“Di Jawa pembangkitan lumayan besar dan di Sumatera juga besar, tapi load-nya kurang. Jadi harus ada interkoneksi, kalau Jawa kelebihan produksi harus bisa dikirim ke Sumatera, demikian juga sebaliknya,” ujarnya.

Ustika menjelaskan bahwa interkoneksi berbasis arus bolak-balik (AC) sulit diterapkan karena tingkat hubung singkat di sistem Jawa sudah tinggi dan berisiko melampaui kapasitas peralatan transmisi.

Dalam hal ini, HVDC dinilai lebih sesuai karena dapat membatasi kontribusi hubung singkat antar sistem.

“Kalau kita pakai teknologi HVDC, transmisinya melalui saluran DC. Jadi meskipun Jawa dan Sumatera digabung, short circuit-nya tidak saling menambah,” katanya.

Ustika menerangkan bahwa HVDC atau arus searah berbeda dengan sistem kelistrikan yang umum digunakan di rumah tangga. Jika listrik konvensional menggunakan arus bolak-balik, HVDC memanfaatkan arus searah yang tidak bersifat sinusoidal.

“Kalau listrik di rumah itu AC, bolak-balik. HVDC itu direct current, positif dan negatif, tidak bolak-balik,” ujarnya.

Ia mengungkapkan bahwa hingga saat ini teknologi HVDC belum digunakan di Indonesia. Namun secara global, teknologi tersebut telah banyak diaplikasikan, terutama di negara-negara dengan tingkat penetrasi energi terbarukan yang tinggi.

“Di Indonesia memang belum ada, tapi di seluruh dunia sudah banyak sekali dipakai. Karena di luar negeri bauran renewable sudah sangat masif,” kata Ustika.

Sejalan dengan target pemerintah dalam RUPTL dan pengembangan jaringan transmisi antarwilayah, Ustika menilai kebutuhan terhadap teknologi HVDC akan semakin relevan ke depan. Untuk mendukung hal tersebut, Hitachi Energy Indonesia bersama PLN telah menjalin kerja sama melalui memorandum of understanding yang mencakup program peningkatan kapasitas dan berbagi pengetahuan.

Ia berharap komitmen Indonesia menuju netral karbon dapat mendorong pemanfaatan teknologi pendukung integrasi energi terbarukåan secara lebih luas.

“Jika Indonesia ingin mencapai target netral karbon, integrasi energi terbarukan harus terjadi—dan itu akan membutuhkan teknologi seperti HVDC,” pungkas Ustika.

Ikuti ListrikIndonesia di GoogleNews

#Hitachi Energy

Index

Berita Lainnya

Index