Anggawira: Kesepakatan Energi RI–AS Buka Peluang Investasi Baru

Anggawira: Kesepakatan Energi RI–AS Buka Peluang Investasi Baru
Tenaga Ahli Menteri ESDM Bidang Monitoring dan Evaluasi Infrastruktur Migas, Anggawira

Listrik Indonesia | Kunjungan Presiden RI Prabowo Subianto ke Amerika Serikat membuahkan hasil konkret di sektor perdagangan dan energi. Dalam pertemuannya dengan Presiden AS Donald Trump, kedua negara menyepakati 11 nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) senilai total USD 38,4 miliar atau sekitar Rp 600 triliun.

Kesepakatan tersebut tertuang dalam dokumen Agreement on Reciprocal Trade (ART) bertema Toward a New Golden Age for the US-Indonesia Alliance. Salah satu poin pentingnya adalah komitmen Indonesia untuk mengimpor energi dari Amerika Serikat hingga USD 15 miliar atau sekitar Rp 253 triliun.

Tenaga Ahli Menteri ESDM Bidang Monitoring dan Evaluasi Infrastruktur Migas, Anggawira, mengatakan perjanjian ini merupakan bagian dari strategi memperkuat hubungan dagang dan diplomasi energi kedua negara.

“Ini bagian dari upaya kita mempererat kerja sama dengan Amerika Serikat. Selama ini neraca perdagangan Indonesia dengan Amerika positif, artinya kita lebih banyak mengekspor ke sana. Amerika tentu ingin ada keseimbangan,” ujarnya. Dikutip Selasa (24/2/2026).

Ia menjelaskan, sektor energi menjadi salah satu komoditas utama dalam kesepakatan tersebut. Namun, Indonesia tidak hanya menargetkan transaksi jual beli energi.
“Kita tidak ingin hanya impor. Kita juga mengharapkan ada komitmen lain, terutama terkait teknologi. Amerika punya keunggulan kompetitif dan komparatif di bidang teknologi energi, dan itu yang kita harapkan bisa dibawa ke Indonesia,” kata Anggawira.

Menurutnya, teknologi dari Amerika sangat dibutuhkan, terutama untuk meningkatkan produksi migas di dalam negeri.
“Lapangan migas kita banyak yang sudah tua. Amerika punya teknologi untuk optimalisasi produksi di upstream industries. Ini salah satu bahan diskusi yang kami dapatkan informasinya dari Menteri ESDM,” ujarnya.

Selain di sektor hulu, kerja sama ini juga diarahkan ke sektor hilir energi. Pemerintah melihat peluang investasi pada pengembangan LNG hub, fasilitas penyimpanan dan regasifikasi, serta industri petrokimia berbasis gas.
“Kita berharap ada downstream investment, seperti LNG hub, storage and regasification, sampai pengembangan petrokimia berbahan baku gas. Amerika punya teknologinya, dan ini bisa memberi nilai tambah bagi Indonesia melalui hilirisasi,” jelasnya.

Anggawira menegaskan, impor energi dari Amerika bersifat jangka pendek sebagai instrumen stabilisasi pasokan, bukan strategi permanen.
“Dalam jangka pendek, impor itu untuk stabilisasi. Bukan strategi permanen. Target kita tetap menuju suasembada energi,” katanya.

Saat ini, sekitar 35 persen kebutuhan BBM nasional masih dipenuhi dari impor. Konsumsi LPG mencapai sekitar 8 juta ton per tahun, sementara produksi dalam negeri baru sekitar 2 juta ton.
“Ini yang menjadi tantangan kita. Tapi sekarang ada peluang substitusi LPG dengan LNG, karena sumber gas kita kandungan C1 dan C2-nya besar,” ujar Anggawira.

Ia menambahkan, perkembangan teknologi mini LNG plant membuat pemanfaatan LNG skala kecil semakin ekonomis dan fleksibel.
“Sekarang sudah ada mini LNG plant yang produknya bisa dipakai sektor hotel dan restoran. Artinya, LNG tidak harus selalu lewat pipa, tapi bisa dalam bentuk tabung atau distribusi khusus,” katanya.

Dengan kerja sama ini, pemerintah optimistis hubungan Indonesia dan Amerika Serikat tidak hanya menguat secara diplomatik, tetapi juga membuka peluang investasi dan transfer teknologi untuk mempercepat transformasi sektor energi nasional.

Ikuti ListrikIndonesia di GoogleNews

#Anggawira

Index

Berita Lainnya

Index