Listrik Indonesia | Sikap menolak pengembangan pembangkit listrik tenaga nuklir kembali disampaikan oleh Greenpeace Indonesia. Lembaga lingkungan tersebut menilai nuklir bukan jawaban tepat untuk mendukung agenda transisi energi nasional yang berkelanjutan.
Juru Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace, Bondan Andriyanu, menyebut bahwa nuklir tidak bisa disamakan dengan energi terbarukan. Ia menegaskan, walaupun pemerintah mengelompokkannya sebagai “energi baru”, sumber bahan bakarnya tetap berasal dari proses pengambilan mineral dari dalam bumi.
“Untuk nuklir, posisi kami jelas menolak. Pertama karena bukan energi terbarukan, kedua karena biaya pembangunannya sangat mahal,” ujar Bondan, Selasa (24/2/2026).
Greenpeace juga menyoroti aktivitas penambangan uranium yang diperlukan untuk operasional pembangkit nuklir. Menurut organisasi ini, proses tersebut tidak jauh berbeda dengan eksploitasi batu bara karena sama-sama mengandalkan sumber daya yang terbatas dan berpotensi menimbulkan dampak lingkungan.
“Dalam praktiknya, uranium tetap harus ditambang terus-menerus. Polanya mirip dengan batu bara, sehingga tidak bisa disebut energi yang bisa diperbarui,” jelasnya.
Selain isu ketersediaan bahan baku dan tingginya ongkos investasi, Greenpeace mengangkat persoalan pengawasan dan tata kelola limbah radioaktif. Insiden paparan radioaktif yang pernah terjadi di kawasan Batan Indah, Tangerang Selatan, dinilai menunjukkan masih lemahnya sistem pengelolaan material berbahaya di Indonesia.
Bondan menilai peristiwa tersebut menjadi catatan penting yang memunculkan keraguan publik terhadap kesiapan nasional jika proyek nuklir skala besar benar-benar direalisasikan.
Di sisi lain, rencana pembangunan PLTN telah tercantum dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034 milik PT PLN (Persero). Dalam dokumen itu, kapasitas pembangkit nuklir dirancang sebesar 2x250 megawatt (MW) dengan lokasi yang direncanakan berada di Bangka Belitung dan Kalimantan Barat.
Greenpeace mendorong pemerintah agar lebih fokus mengoptimalkan potensi energi terbarukan yang tersedia melimpah di Indonesia, seperti surya, angin, dan mikrohidro. Menurut mereka, sumber energi tersebut lebih aman dan risikonya jauh lebih kecil dibanding nuklir.
“Seharusnya nuklir tidak dimasukkan sebagai pilihan energi terbarukan. Kenapa tidak memaksimalkan dulu energi yang sudah terbukti aman dan bisa dikembangkan di Indonesia,” kata Bondan.
Perdebatan mengenai energi nuklir diperkirakan akan terus berlanjut seiring upaya pemerintah memenuhi target bauran energi nasional serta komitmen penurunan emisi karbon dalam jangka panjang.
