Listrik Indonesia | Pemerintah Indonesia tengah menyiapkan langkah strategis untuk meningkatkan impor energi dari Amerika Serikat. Kebijakan ini merupakan bagian dari upaya menyeimbangkan neraca perdagangan kedua negara, dengan cakupan yang meluas dari LPG, minyak mentah, hingga bahan bakar minyak (BBM).
Saat ini, sekitar 54% kebutuhan LPG dalam negeri dipasok dari Negeri Paman Sam. Ke depan, pemerintah menargetkan peningkatan signifikan hingga 80–85%. Sementara untuk minyak mentah, kontribusi dari AS masih di bawah 4%, namun dalam waktu dekat, porsi itu direncanakan melesat hingga lebih dari 40%. Untuk BBM, volume impor dari AS saat ini masih tergolong kecil, namun akan diperluas secara substansial setelah pembahasan teknis bersama Pertamina rampung.
“Langkah ini bagian dari strategi menyeimbangkan neraca perdagangan. Kita akan meningkatkan pembelian LPG, minyak mentah, dan BBM dari Amerika,” ujar Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (18/4/2025).
Bahlil menyebutkan, berdasarkan data dari pihak AS, neraca perdagangan Indonesia tercatat mengalami defisit. Ini berbanding terbalik dengan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat surplus hingga 14,5%.
Rencana pengalihan impor dari berbagai negara ke AS untuk tiga jenis energi tersebut diperkirakan akan menembus angka US$10 miliar. Namun demikian, Bahlil menegaskan bahwa skema ini tidak akan menambah kuota impor secara nasional, maupun membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
“Kita hanya mengalihkan sumber pembelian ke AS, tidak menambah volume dan tidak ada beban tambahan bagi APBN,” jelasnya.
Lebih dari sekadar kebijakan perdagangan, langkah ini juga dinilai sebagai strategi diplomasi ekonomi. Pemerintah berharap, dengan neraca perdagangan yang lebih seimbang, tarif ekspor Indonesia ke pasar AS bisa ditekan.
“Kalau neraca kita sudah setara, bahkan AS mungkin bisa surplus, ya logikanya tarif (impor dari Indonesia) bisa turun,” kata Bahlil.
Saat ini, proses negosiasi perdagangan antara Indonesia dan Amerika Serikat masih berlangsung, dengan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memimpin delegasi RI.(KDR)