Wamen ESDM Sokong GHES 2026 untuk Angkat Hidrogen Indonesia

Selasa, 10 Februari 2026 | 11:07:09 WIB
Wamen ESDM, Yuliot Tanjung Dukung Penyelenggaran GHES 2026

Listrik Indonesia | Pemerintah menegaskan komitmennya membangun ekosistem hidrogen nasional sebagai bagian dari strategi besar transisi energi dan penguatan ketahanan energi. Hal tersebut disampaikan Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung dalam pembukaan Global Hydrogen Ecosystem Summit & Exhibiton (GHES) 2026. 

Yuliot menyampaikan apresiasi kepada seluruh pemangku kepentingan, mitra internasional, serta pelaku industri yang berkolaborasi mempersiapkan penyelenggaraan forum global tersebut. Menurutnya, GHES 2026 menjadi momentum penting untuk mengonsolidasikan peran Indonesia dalam pengembangan ekosistem hidrogen dunia. 

“Pemerintah sangat berkepentingan mendorong terbentuknya ekosistem hidrogen yang utuh, mulai dari teknologi, industrialisasi, hingga pemanfaatannya secara berkelanjutan bagi lingkungan dan perekonomian,” ujar Yuliot dalam sambutannya di Launching GHES 2026 di Kantor EBTKE, Jakarta. Selasa (10/2/2026). 

Ia menekankan bahwa pengembangan hidrogen tidak hanya menyangkut aspek energi, tetapi juga berkaitan erat dengan pembangunan industri, ketahanan pangan, serta pengurangan emisi karbon secara nasional. 

Potensi EBT 3.600 GW Jadi Modal Besar 

Indonesia memiliki potensi energi baru terbarukan (EBT) yang sangat besar, mencapai sekitar 3.600 gigawatt. Potensi tersebut dinilai menjadi modal utama untuk mengembangkan hidrogen hijau yang bersumber dari tenaga surya, angin, air, dan panas bumi. 

Jika dikembangkan secara optimal, EBT tidak hanya memperkuat sistem kelistrikan nasional, tetapi juga dapat menjadi fondasi produksi hidrogen untuk berbagai sektor, mulai dari industri hingga transportasi. 

“Dengan potensi ini, Indonesia sangat berpeluang menjadi pemain utama dalam rantai pasok hidrogen global, bukan hanya sebagai pengguna, tetapi juga sebagai produsen,” kata Yuliot. 

Hidrogen untuk Industri, Transportasi, hingga Teknologi Tinggi 

Saat ini, pemanfaatan hidrogen di Indonesia masih didominasi sektor ketahanan pangan, khususnya untuk produksi pupuk. Konsumsi hidrogen nasional mencapai sekitar 1,75 juta ton per tahun, dengan komposisi 88 persen untuk pupuk, 4 persen untuk amonia, dan 2 persen untuk kilang minyak. 

Ke depan, pemerintah mendorong diversifikasi penggunaan hidrogen sebagai bahan bakar industri dan transportasi. Teknologi kendaraan berbasis hidrogen bahkan telah memasuki tahap produksi massal di sejumlah negara. 

Selain itu, hidrogen juga mulai dimanfaatkan untuk transportasi jarak jauh, termasuk kapal berkapasitas besar. Posisi strategis Indonesia sebagai jalur pelayaran dunia membuka peluang besar untuk pengembangan bahan bakar hidrogen di sektor maritim. 

Tak hanya itu, hidrogen juga digunakan dalam teknologi tinggi, termasuk bahan bakar roket, yang menunjukkan luasnya potensi pemanfaatan energi ini di masa depan. 

Dukung Net Zero Emission 2060 

Pengembangan hidrogen sejalan dengan komitmen Indonesia mencapai Net Zero Emission pada 2060. Hidrogen diproyeksikan menjadi salah satu kunci dekarbonisasi sektor energi dan industri. 

Dalam konteks hilirisasi, hidrogen juga berperan dalam peningkatan nilai tambah batubara melalui proses gasifikasi. Salah satu contoh adalah proyek gasifikasi batubara menjadi dimethyl ether (DME) yang dirancang mengolah sekitar 6 juta ton batubara per tahun dan menghasilkan 1,4 juta ton DME per tahun. 

Proyek ini berpotensi mengurangi impor LPG hingga 1 juta ton per tahun sekaligus mendorong investasi sekitar 2,1 miliar dolar AS. Dampaknya tidak hanya pada sektor energi, tetapi juga terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. 

Bangun Industri dan Pasar Hidrogen Domestik 

Pemerintah menilai pembangunan ekosistem hidrogen harus mencakup dua sisi utama, yakni industri hulu dan pengguna akhir. Penguatan industri peralatan dan komponen dalam negeri menjadi penting agar Indonesia tidak terus bergantung pada impor teknologi. 

Di sisi hilir, penggunaan hidrogen akan dikembangkan untuk sektor industri, transportasi, dan pembangkit energi. Pemerintah telah menyusun tahapan pengembangan, mulai dari target jangka pendek lima tahun, jangka menengah sepuluh tahun, hingga strategi jangka panjang. 

GHES 2026 Jadi Tonggak Strategis 

GHES 2026 dirancang sebagai ajang strategis untuk mempercepat adopsi teknologi rendah karbon. Acara ini akan menghadirkan berbagai program utama, seperti konferensi internasional, business matching, pameran teknologi hidrogen, hingga uji coba kendaraan berbahan bakar hidrogen. 

“Kegiatan ini menjadi sarana meyakinkan para pemangku kepentingan bahwa hidrogen dapat menjadi solusi nyata bagi masa depan energi bersih,” kata Yuliot. 

Ia menegaskan bahwa kolaborasi lintas sektor dan lintas negara menjadi kunci keberhasilan pengembangan hidrogen di Indonesia. 

Dengan dukungan seluruh pihak, pemerintah berharap Indonesia tidak hanya menjadi pasar, tetapi juga pusat pengembangan ekosistem hidrogen regional bahkan global. 

“Melalui GHES 2026, kita jadikan Indonesia sebagai pusat penyemaian ekosistem hidrogen dunia, sejalan dengan visi Indonesia Emas 2045 dan komitmen transisi energi global,” tutup Yuliot.

Tags

Terkini