Bahlil Ungkap Kondisi Energi di Forum Listrik Indonesia

Jumat, 10 April 2026 | 20:12:40 WIB
Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia (Kiri) Bersama Anggota DEN, Satya Widya Yudha

Listrik Indonesia | Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, membuka sambutannya dengan memberikan apresiasi atas peluncuran buku otobiografi Satya Widya Yudha yang berjudul “Jejak Langkah Satya Widya Yudha: Pengabdian Tanpa Batas”. 

Ia menilai buku tersebut bukan sekadar catatan perjalanan hidup, tetapi juga sumber inspirasi, khususnya bagi generasi muda. Menurutnya, perjalanan Satya Widya Yudha menunjukkan bahwa kesuksesan tidak datang secara instan, melainkan melalui proses panjang, konsistensi, dan pengalaman di berbagai bidang, baik politik maupun ekonomi. 

“Tidak banyak tokoh bangsa yang mampu menuliskan perjalanan hidupnya secara utuh. Ini bisa jadi inspirasi bagi banyak orang,” ujar Bahlil dalam acara Listrik Indonesia Forum di Parle Senayan, Jakarta, Jumat (10/4/2026). 

Setelah itu, Bahlil menyinggung kondisi sektor energi nasional yang sempat berada dalam tekanan akibat dinamika geopolitik global, terutama di kawasan Timur Tengah. Ia mengaku persoalan BBM dan LPG sempat membuatnya harus bekerja ekstra hingga waktu istirahatnya terganggu. 

“BBM dan LPG ini membuat saya tidurnya terganggu. Tapi sekarang kita sudah keluar dari fase kritis,” katanya. 

Ia menggambarkan kondisi sebelumnya seperti pasien yang berada di ruang ICU. Namun kini, kondisi tersebut mulai membaik. Cadangan LPG yang sempat hanya cukup untuk beberapa hari, kini telah meningkat menjadi di atas 10 hari dan mendekati kondisi normal. 

Bahlil memastikan pasokan energi nasional, baik BBM jenis solar maupun bensin, saat ini dalam kondisi aman. Pemerintah terus menjaga stabilitas pasokan di tengah konsumsi energi yang mencapai 1,5 hingga 1,6 juta barel per hari. 

Ia juga mengapresiasi peran Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) yang telah meningkatkan lifting migas serta mengalihkan sebagian kuota ekspor untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. 

“Ini langkah penting untuk menjaga ketahanan energi kita,” ujarnya. 

Di sisi lain, Bahlil menyoroti kenaikan Indonesian Crude Price (ICP) dari 70 dolar AS menjadi sekitar 100 dolar AS per barel. Kenaikan ini berdampak pada meningkatnya anggaran subsidi energi hingga lebih dari Rp200 triliun. 

Namun demikian, peningkatan tersebut diimbangi dengan kenaikan penerimaan negara. Penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dari sektor migas naik dari sekitar 10,8 miliar dolar AS menjadi 17,6 miliar dolar AS, atau bertambah sekitar 7 miliar dolar AS. 

Dengan kondisi tersebut, ia memastikan keseimbangan fiskal tetap terjaga dan tidak akan membebani anggaran negara secara berlebihan. 

Lebih lanjut, Bahlil menegaskan bahwa pemerintah di bawah arahan Presiden Prabowo Subianto akan terus menjaga daya beli masyarakat, terutama kelompok rentan, melalui kebijakan subsidi energi. 

“Apapun yang terjadi, kita harus jaga masyarakat kecil agar tetap terlindungi,” tegasnya. 

Ia pun optimistis Indonesia mampu menghadapi tantangan energi global dengan strategi yang adaptif serta kolaborasi lintas sektor demi menjaga ketahanan energi nasional tetap kuat.

Tags

Terkini