Listrik Indonesia | Wakil Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Kartika Wirjoatmodjo mengungkapkan rencana pemerintah untuk memberikan penawaran pembangkit listrik energi baru dan terbarukan (EBT) dalam kapasitas yang besar, yaitu 1 hingga 2 Giga Watt. Hal tersebut dilakukan untuk mempercepat transisi energi menuju pembangunan renewable energy. Hal tersebut ia ungkapkan dalam Seminar Nasional Outlook Perekonomian Indonesia, Jumat (22/12/2023).
"Bisa ada percepatan 24 GW renewable dapat terjadi 10 tahun ke depan. Tantangannya kan skala besar 1 GW - 2 GW ini misalnya solar panel dan hydro itu pembiayaan yang skala besar dengan jangka panjang dan tentunya dalam USD," ungkapnya.
Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo, atau yang akrab disapa Tiko, menegaskan keinginan pemerintah untuk adanya Blok Bidding dengan kapasitas pembangkit antara 1 Giga Watt (GW) hingga 2 GW. Langkah ini diharapkan dapat mempercepat pembangunan pembangkit EBT dalam kurun waktu 10 tahun mendatang.
Tiko juga mengakui bahwa saat ini belum ada pendanaan dalam negeri dalam bentuk USD, khususnya untuk pinjaman jangka panjang. Pemerintah saat ini sedang berupaya untuk mencari pendanaan internasional.
"Kita harus bisa meng-engagement internasional multirateral, ESI dan juga banking community, serta skema dan lain sebagainya, supaya ada full of fund jangka panjang yang berskala besar," katanya.
Di sisi lain, dari perspektif ekuitas, banyak perusahaan energi skala dunia yang menunjukkan minat untuk berinvestasi di Indonesia. Sebagai contoh, perusahaan UEA, Masdar, telah masuk dalam pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) terapung terbesar ke-3 di dunia dan terbesar di Asia.
