Target 52 GW EBT di RUPTL, Berapa Investasi yang Dibutuhkan?

Target 52 GW EBT di RUPTL, Berapa Investasi yang Dibutuhkan?
Gambar ilustrasi investasi EBT.

Listrik Indonesia | Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI Eddy Soeparno menyatakan Indonesia membutuhkan investasi sekitar US$ 19 miliar atau setara Rp 340 triliun per tahun selama 10 tahun ke depan untuk mendukung transisi energi dan mengurangi ketergantungan pada energi fosil. Pernyataan tersebut disampaikan dalam acara Refleksi Akhir Tahun 2025 di Gedung DPR/MPR, Jakarta, Rabu (31/12/2025).

“Kebutuhannya memang tidak kecil teman-teman, Ibu Bapak sekalian, karena kebutuhan untuk pengembangan 10 tahun yang akan datang, kita membutuhkan dana investasi hampir US$ 190 miliar. Atau kurang lebih Rp 3.400 triliun. Yang mana artinya setiap tahun kita harus menyiapkan investasi hampir US$ 19 miliar,” ujar Eddy.

Ia menjelaskan, kebutuhan investasi tersebut sejalan dengan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034. Dalam dokumen tersebut, Indonesia menargetkan penambahan kapasitas pembangkit listrik hingga tahun 2034 dengan porsi terbesar berasal dari energi baru dan terbarukan (EBT).

“Sampai dengan tahun 2034 kita sudah berkomitmen kita akan membangun hampir 70 Gigawatt (GW) pembangkit baru, di mana di antaranya 52 GW itu datang dari energi baru dan energi terbarukan,” jelasnya.

Menurut Eddy, investasi di sektor energi bersih tidak hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan pasokan listrik nasional, tetapi juga diharapkan memberikan dampak ekonomi. Ia menyebutkan adanya potensi penciptaan lapangan kerja baru serta kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

“Tetapi dampaknya apa? Menciptakan lapangan pekerjaan, green jobs tercipta hampir 1,7 juta. Memberikan kontribusi terhadap peningkatan PDB kita. Nah kemudian mendorong juga terciptanya sebuah ekonomi baru yaitu ekonomi karbon yang saat ini sudah bisa kita kembangkan secara cepat karena kita sudah memiliki payung hukumnya yaitu Perpres 110 tahun 2025,” tambahnya.

Lebih lanjut, Eddy menilai percepatan transisi energi perlu dilakukan di tengah persaingan global dalam memperoleh pendanaan dan teknologi energi terbarukan. Ia menyebut negara-negara lain juga tengah mempercepat pengembangan sektor serupa.

“Nah oleh karena itu, saya mendorong sekali bahwa kebutuhan kita untuk membangun energi terbarukan itu tidak boleh luput. Kita tidak boleh tertinggal lagi, tidak boleh lengah lagi,” tutupnya.

Ikuti ListrikIndonesia di GoogleNews

#EBT

Index

Berita Lainnya

Index