Listrik Indonesia | Indonesia terus menunjukkan komitmennya dalam pengembangan energi baru terbarukan (EBT). Dalam konferensi COP29 yang berlangsung di Baku, Azerbaijan, Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE), Eniya Listiani Dewi memaparkan potensi besar energi pasang surut air laut atau Tidal di Indonesia.
“Indonesia memiliki potensi energi pasang surut yang tersebar luas. Berdasarkan draft Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL), diproyeksikan tambahan kapasitas sebesar 40 MW dari energi pasang surut hingga 2033,” jelas Eniya dalam presentasinya.
BACA JUGA: Hanya Dimanfaatkan 10%, Indonesia Tantang Investor Garap Potensi Panas Bumi Raksasa
Dalam pemaparan tersebut, Eniya menjelaskan bahwa total potensi energi pasang surut di Indonesia mencapai 18.873 MW, yang terbagi ke dalam dua kategori: Selat Sempit dengan potensi 7.728 MW dan Selat Lebar sebesar 11.145 MW.
“Selat sempit dan lebar menjadi lokasi strategis untuk pengembangan proyek ini. Pemerintah dan pelaku industri diharapkan dapat berkolaborasi untuk mewujudkan target tersebut,” tambah Eniya.
BACA JUGA: Kupas Tuntas Perjalanan Wartsila di Podcast Bincang Listrik Indonesia
Selain memanfaatkan potensi energi yang melimpah, pengembangan ini sejalan dengan upaya Indonesia menuju Net Zero Emission (NZE). Eniya juga menyoroti pentingnya dukungan teknologi dan investasi untuk memastikan keberhasilan implementasi proyek energi pasang surut.
Dengan langkah konkret seperti ini, Indonesia semakin memperkuat posisinya sebagai salah satu negara terdepan dalam transisi energi global. “Semua pihak, baik pemerintah, swasta, maupun masyarakat, perlu bersinergi untuk menjawab tantangan energi masa depan,” tutup Eniya.
