Eksplorasi Panas Bumi Penuh Risiko, Keberhasilan Hanya 30–40%

Eksplorasi Panas Bumi Penuh Risiko, Keberhasilan Hanya 30–40%
Eksplorasi Geothermal/Dok.KESDM

Listrik Indonesia | Pengembangan energi panas bumi (geothermal) di Indonesia menghadapi tantangan besar, khususnya dalam tahap eksplorasi. 

Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, mengungkapkan bahwa proses pengeboran eksplorasi untuk menemukan sumber daya panas bumi di bawah permukaan bumi memiliki tingkat keberhasilan yang rendah, hanya sekitar 30 hingga 40 persen. 

“Konversi dari resources menjadi reserves merupakan tahap paling berisiko. Tingkat kesuksesan pengeboran eksplorasi hanya berkisar 30–40%, artinya sekitar 60% aktivitas tersebut berakhir gagal,” ujar Darmawan dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi XII DPR pada Rabu (15/5/2025). 

Meskipun tantangan tersebut besar, Darmawan menekankan bahwa potensi panas bumi Indonesia sangat luar biasa. Indonesia menyimpan sekitar 40% dari total cadangan panas bumi dunia, atau setara dengan 23 gigawatt (GW). Oleh karena itu, energi geothermal dinilai strategis dalam mendukung ketahanan energi nasional serta upaya menuju Net Zero Emission (NZE) pada 2060 atau lebih cepat. 

"Investasi awal untuk pengembangan panas bumi memang cukup besar, namun biaya operasionalnya jauh lebih rendah. Begitu juga dengan pembangkit listrik tenaga air (PLTA), yang tidak memerlukan biaya bahan bakar," tambahnya. 

Saat ini, kapasitas terpasang pembangkit panas bumi di Indonesia baru mencapai sekitar 2,3 GW. PLN menargetkan peningkatan pemanfaatan energi ini hingga 5,1 GW dalam sepuluh tahun ke depan. Target tersebut telah tercantum dalam draft Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2025–2034. 

“Dari total pengembangan tersebut, porsi PLN hanya sekitar 11%, sementara sisanya sekitar 4,5 GW atau 89% akan dikerjakan oleh pihak swasta,” tutup Darmawan.

Ikuti ListrikIndonesia di GoogleNews

#Geothermal

Index

Berita Lainnya

Index