Mengawal Transisi Energi, PLN IP Perkuat Investasi Energi Terbarukan

Mengawal Transisi Energi, PLN IP Perkuat Investasi Energi Terbarukan
Direktur Utama PLN Indonesia Power, Bernadus Sudarmanta

Listrik Indonesia | PT PLN Indonesia Power (PLN IP) menegaskan komitmennya untuk menjadi motor penggerak transisi energi nasional dengan memperbesar porsi pengembangan energi baru terbarukan (EBT). Direktur Utama PLN Indonesia Power, Bernadus Sudarmanta, menyebut langkah ini sejalan dengan agenda global sekaligus prioritas pemerintah Indonesia dalam menghadapi tantangan perubahan iklim.

Sebagai perusahaan pembangkit listrik terbesar di Asia Tenggara dengan kapasitas terpasang 21 gigawatt (GW), Indonesia Power saat ini menyumbang sekitar 25 persen pasokan listrik nasional. Menurut Bernadus, dominasi tersebut harus dipertahankan sekaligus diarahkan ke energi bersih. "Kalau ingin bertahan di masa depan, mau tidak mau kami harus bergerak ke renewable energy development," ujarnya dalam siaran dialog energy corner cnbc. Kamis, (14/8/2025).

Peta jalan (roadmap) transisi energi yang dimiliki Indonesia Power terbagi dalam tiga tahap. Jangka pendek difokuskan pada penguatan infrastruktur dengan membangun pembangkit berbasis gas berkapasitas sekitar 3 GW. Langkah ini dianggap penting untuk menopang sistem kelistrikan agar siap menerima variabilitas pasokan dari pembangkit EBT.

Dalam jangka menengah, perusahaan mulai mempercepat pembangunan pembangkit hijau, mulai dari tenaga air (hydro), panas bumi (geothermal), angin (wind power), hingga tenaga surya (PLTS). Persiapan menuju pembangkit nuklir juga masuk dalam agenda. Sementara itu, untuk jangka panjang, Indonesia Power menargetkan konversi pembangkit berbasis batu bara menjadi lebih ramah lingkungan, baik melalui teknologi co-firing biomassa, hidrogen, maupun penerapan fasilitas penangkap karbon (carbon capture).

Bernardus menekankan, dominasi pengembangan EBT dalam beberapa tahun mendatang akan berasal dari PLTS skala besar (solar farm) yang dipadukan dengan teknologi penyimpanan energi (energy storage), baik berupa pump storage maupun baterai. "Kami akan menggencarkan eksekusi program pengembangan solar farm dan wind," jelasnya.

Sejumlah proyek strategis pun tengah digarap. Salah satunya adalah proyek Hijau Indonesia berkapasitas 1.000 MW yang didominasi PLTS, yang kini memasuki tahap finalisasi perjanjian jual beli listrik (PPA). Selain itu, proyek angin berskala gigawatt juga diproyeksikan segera dieksekusi pada batch berikutnya.

Namun, perjalanan tidak lepas dari tantangan. Pendanaan menjadi salah satu kendala utama, karena kebutuhan modal besar sementara dukungan finansial dari internal PLN terbatas. Untuk itu, Indonesia Power menggandeng mitra melalui skema kemitraan (joint partnership). Di tahap awal, perusahaan lebih banyak bekerja sama dengan pengembang global karena faktor risiko teknologi dan finansial.

Ke depan, Bernardus menegaskan pihaknya akan lebih banyak melibatkan pengembang lokal. Menurutnya, pengembangan EBT pada dasarnya berbasis kearifan lokal karena sangat bergantung pada kondisi geografis. Misalnya, PLTS membutuhkan lahan yang memadai, pembangkit angin bergantung pada arus angin, sedangkan hydro dan geothermal juga berbasis potensi wilayah.

"Renewable energy ini pada hakikatnya harus melibatkan mitra lokal. Karena banyak tantangan yang kami hadapi, mulai dari pembebasan lahan, isu sosial, hingga lingkungan. Dengan menggandeng pengembang lokal, kami berharap tantangan itu bisa lebih mudah diatasi," tutur Bernadus.

Ikuti ListrikIndonesia di GoogleNews

#PLN Indonesia Power

Index

Berita Lainnya

Index