Ketika Koperasi Menjadi Motor Penggerak Biomassa

Ketika Koperasi Menjadi Motor Penggerak Biomassa
Ketua Umum KOPETINDO, Widi Pancono

Listrik Indonesia | Di tengah upaya Indonesia mempercepat transisi menuju energi bersih, Koperasi Energi Terbarukan Indonesia (Kopetindo) tampil sebagai motor penggerak yang tak bisa dipandang sebelah mata. Di bawah kepemimpinan Widi Pancono, koperasi ini tidak hanya ikut arus tren energi hijau, melainkan menjadi pelopor dalam pemanfaatan biomassa dan biogas sebagai amunisi baru melawan emisi karbon sekaligus membuka peluang bisnis masyarakat. 

"Kami serius gaspol di biomassa. Potensinya besar, pasarnya luas, dan dampaknya nyata bagi pengurangan emisi," ujar Widi dikutip majalah Listrik Indonesia. 

Cofiring Jadi Fokus Utama 

Salah satu program yang kini digenjot Kopetindo adalah co-firing, yakni mencampur biomassa dengan batu bara di Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU). Menurut Widi, peluangnya masih sangat besar. 

"PLN menargetkan kebutuhan biomassa hingga 10 juta ton per tahun, sementara tahun ini baru sekitar 3 juta ton. Artinya, ruang pertumbuhannya masih sangat luas," jelasnya. 

Kopetindo sendiri sudah membuktikan keberhasilannya di lapangan. Di Pulau Bangka, mereka mengelola pabrik biomassa yang menjadi penyuplai utama proyek co-firing di PLTU Air Anyir, yang kini ditetapkan sebagai proyek percontohan nasional. 

Peluang Pasar Domestik dan Ekspor 

Saat ini, banyak industri mulai dari sawit, tapioka, hingga gula sudah memanfaatkan limbah biomassa untuk kebutuhan listrik dan uap. Ke depan, potensi biomassa semakin luas dengan hadirnya bioetanol dari tanaman sorgum serta pemanfaatan biomassa sebagai pengganti elpiji, baik dalam bentuk briket maupun gas. 

Tak hanya domestik, peluang ekspor biomassa Indonesia juga terbuka lebar. Tantangannya, sektor hulu masih perlu dipersiapkan lebih serius, terutama soal sertifikasi internasional. Tanpa itu, sulit bersaing dengan negara lain, seperti Vietnam, yang saat ini jauh lebih unggul dalam volume ekspor. Namun Widi optimistis, dengan tata kelola yang berkelanjutan serta kerja sama erat antara swasta dan pemerintah, Indonesia bisa mengejar ketertinggalan dalam lima tahun ke depan. 

Hijaukan Negeri, Tekan Emisi 

Selain membuka peluang bisnis, biomassa terbukti membantu menekan emisi karbon. Tahun lalu, program co-firing PLN berhasil menurunkan emisi hingga 1,5 juta ton. 

"Biomassa itu netral karbon. Pohon menyerap karbon saat tumbuh, lalu saat dibakar, emisinya setara dengan yang diserap," kata Widi. 

Untuk menjaga keberlanjutan, Kopetindo juga aktif mendorong penanaman pohon energi di lahan kritis. Salah satunya bekerja sama dengan PT Timah dalam merehabilitasi bekas tambang. 

Meski peluang bisnis biomassa besar, Widi mengakui masih ada kendala regulasi. Menurutnya, harga listrik dari energi terbarukan belum cukup menarik investor. Ia mendorong agar pemerintah lebih melibatkan koperasi dalam proyek energi desa, karena masyarakat lebih percaya pada model koperasi. 

"Kami juga terus berdiskusi dengan parlemen. Harapannya, aturan soal biomassa dan biogas bisa segera disahkan tahun ini, agar pengembangannya makin optimal," ungkapnya. 

Lebarkan Sayap ke Energi Hijau Lain 

Tak berhenti di biomassa, Kopetindo kini merambah ke proyek energi hijau lain, seperti PLTS atap, teknologi arang batok, lampu LED hemat energi, hingga pengolahan sampah jadi pengganti solar. Atas kiprahnya, Kopetindo mendapat pembinaan langsung dari Kementerian Koperasi dan UMKM, bahkan disebut sebagai salah satu koperasi terbaik di sektor energi. 

Ke depan, Kopetindo siap mengambil peran sebagai "Koperasi Merah Putih", simbol kemandirian energi nasional sekaligus motor ekonomi desa. Rencana ambisius pun tengah digodok bersama pemerintah, yakni membentuk unit bisnis biomassa di 52 lokasi sekitar PLTU dalam program Kemitraan Masyarakat Produktif (KMP). Saat ini, Kopetindo telah memiliki sekitar 90 anggota yang siap bergerak bersama mewujudkan energi hijau inklusif bagi Indonesia.

Ikuti ListrikIndonesia di GoogleNews

#biomassa

Index

Berita Lainnya

Index