Listrik Indonesia | Dalam Majalah Listrik Indonesia edisi ke-109, Pemerhati Energi sekaligus pendukung transisi menuju Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) pertama di Indonesia, Bob S. Effendi, menegaskan pentingnya langkah strategis pemerintah dan PLN untuk segera merealisasikan rencana pembangunan PLTN yang telah masuk dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL).
Menurut Bob, keberadaan PLTN sudah tercantum dalam RUPTL dengan target beroperasi pada 2034 dan kapasitas mencapai 7,5 hingga 10 gigawatt (GW) pada tahun 2040. Namun, ia menekankan bahwa waktu terus berjalan, dan keputusan strategis perlu segera diambil agar rencana tersebut tidak hanya berhenti di atas kertas.
“PLTN telah masuk RUPTL dengan target beroperasi pada 2034 dan kapasitas 7,5–10 GW pada 2040, tetapi waktu terus berjalan dan keputusan strategis harus segera diambil agar cita-cita tersebut tak berhenti di atas kertas,” ujarnya.
Bob juga menyoroti masih rendahnya tingkat konsumsi listrik di Indonesia dibandingkan negara-negara tetangga. Untuk mencapai taraf hidup sejahtera dengan konsumsi listrik sebesar 4.000 kWh per kapita, PLN harus menambah kapasitas pembangkit sekitar empat kali lipat sebelum 2045. “Tanpa pembangkit bersih skala besar seperti PLTN, target itu sulit dicapai,” katanya.
Ia menilai bahwa PLTN bukan sekadar pilihan teknologi, tetapi merupakan bagian penting dari strategi menuju kemandirian dan keberlanjutan energi nasional. “Kini saatnya ESDM dan PLN berani melangkah maju demi masa depan energi Indonesia yang bersih, kuat, dan berdaulat,” tegas Bob.
