PR Besar BRIN, Menghapus Stigma Nuklir di Masyarakat

PR Besar BRIN, Menghapus Stigma Nuklir di Masyarakat
PLTN.

Listrik Indonesia | Wakil Ketua Komisi X DPR RI, MY Esti Wijayati, menyampaikan pentingnya edukasi publik mengenai teknologi nuklir. Hal tersebut ia ungkapkan saat bertemu masyarakat dan akademisi di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta pada beberapa waktu yang lalu, dikutip Selasa (09/12/2025).

Ia menekankan bahwa persepsi negatif tentang nuklir masih kuat dan perlu ditangani melalui penjelasan yang komprehensif.

Esti menjelaskan bahwa pandangan masyarakat terhadap nuklir selama ini dipengaruhi oleh gambaran tragedi Hiroshima dan Nagasaki. Menurutnya, persepsi tersebut terbentuk karena kurangnya pemahaman mengenai berbagai manfaat teknologi nuklir yang dapat digunakan secara damai dan aman.

“Tidak mudah bagi masyarakat memahami kegunaan nuklir. Yang terbayang pasti bom. Saya pun dulu seperti itu, Karena Imaji tersebut membuat masyarakat sulit menerima konsep pemanfaatan nuklir secara damai dan aman,” ujarnya.

Ia menyampaikan pengalaman pribadi saat menjalani pemeriksaan medis menggunakan teknologi berbasis nuklir. Pengalaman tersebut menjadi contoh bahwa pemanfaatan nuklir tidak hanya berkaitan dengan energi, tetapi juga layanan kesehatan yang umum digunakan. “Saya ini pengguna teknologi nuklir. Misalnya saat melakukan radioterapi. Ada batasannya, tapi manfaatnya besar,” jelasnya.

Esti menilai bahwa rendahnya literasi nuklir berpengaruh langsung pada penolakan masyarakat terhadap pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). Ia menyebut bahwa penolakan ini bukan sepenuhnya karena kekhawatiran terhadap teknologi, tetapi karena kurangnya informasi dan sosialisasi. “Penolakan listrik tenaga nuklir itu sangat kuat karena masyarakat belum paham. Ada ketakutan,” tegasnya.

Ia menambahkan bahwa pemilihan lokasi fasilitas energi nuklir harus mempertimbangkan jarak dengan pemukiman. Menurutnya, penempatan PLTN yang tiba-tiba dekat dengan wilayah penduduk dapat memicu resistensi. “Kalau Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) tiba-tiba ditempatkan di tengah pemukiman, pasti ditolak. Di manapun pasti ditolak,” ungkapnya. Sementara fasilitas akademik seperti laboratorium PTN BRIN dinilai lebih mudah diterima karena kapasitasnya kecil dan digunakan untuk pembelajaran.

Esti menilai perlunya integrasi pembelajaran teknologi nuklir dalam kurikulum pendidikan. Ia mendorong agar siswa mendapat penjelasan sederhana dan praktik yang dapat menunjukkan manfaat penggunaan teknologi tersebut. “Sedikit saja ketika ada pelajaran teknologi, dijelaskan kegunaan nuklir itu apa. Kalau bisa, dipraktikkan. Biar anak-anak paham bahwa nuklir bisa untuk banyak hal,” ujarnya.

Ia juga mengaitkan pentingnya pemahaman nuklir dengan upaya peningkatan literasi digital yang selama ini didorong Komisi X DPR RI. Menurutnya, pendidikan berbasis teknologi harus diarahkan pada pemahaman manfaat dan penggunaan yang tepat.

Di akhir pernyataannya, Esti menegaskan bahwa Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memiliki peran kunci dalam meningkatkan pemahaman publik terkait inovasi nuklir. Menurutnya, BRIN perlu menghadirkan edukasi yang lebih luas dan terstruktur agar masyarakat dapat melihat teknologi nuklir secara proporsional. “Ini pembelajaran yang penting. BRIN harus aktif menjelaskan manfaatnya agar masyarakat tidak takut dengan nuklir,” tandasnya.

Ikuti ListrikIndonesia di GoogleNews

#PLTN

Index

Berita Lainnya

Index