Alat Berat Listrik Jadi Alternatif Baru di Pertambangan

Alat Berat Listrik Jadi Alternatif Baru di Pertambangan
Ilustrasi Alat Berat Listrik di Sektor Pertambangan

Listrik Indonesia | Upaya pemerintah Indonesia dalam mempercepat transisi energi terus menunjukkan geliat nyata. Pengembangan ekosistem kendaraan listrik didorong sebagai bagian dari strategi menekan emisi, mengurangi ketergantungan impor BBM, sekaligus mengakselerasi target Indonesia menuju Net Zero Emission (NZE) 2060.

Sejalan dengan arah kebijakan tersebut, PT Gaya Makmur Tractors (GM Tractors) mengambil peran aktif dengan menghadirkan alat berat dan otomotif berbasis listrik untuk sektor tambang hingga konstruksi. Sebagai distributor alat berat, GM Tractors melihat elektrifikasi bukan lagi sekadar wacana, melainkan kebutuhan masa depan industri.

Direktur Product Support GM Tractors, Surateman, menilai adopsi alat berat berbasis listrik di Indonesia memiliki potensi besar. Selain meningkatkan efisiensi operasional, teknologi ini diyakini mampu menekan biaya jangka panjang serta mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.

“Sekarang ini industri kendaraan listrik sudah semakin terbiasa. Tren itu mulai merambah ke alat berat. Di kalangan pelaku usaha tambang dan konstruksi, opsi alat berat listrik sudah menjadi topik hangat,” ujar Surateman dalam siaran bincangnya dikutip, Kamis (8/1/2026).

Meski peluangnya besar, Surateman tidak menampik masih ada tantangan signifikan yang harus dihadapi. Infrastruktur kelistrikan menjadi persoalan utama, mengingat alat berat umumnya beroperasi di wilayah terpencil dan kawasan tambang yang jauh dari jaringan listrik memadai.

“Tantangan pertama jelas infrastruktur listrik. Alat berat dipakai di pedalaman, sehingga ketersediaan daya menjadi isu krusial. Kedua, kesiapan sumber daya manusia karena teknologinya sangat berbeda dengan alat konvensional,” jelasnya.

Menurutnya, transformasi dari alat berat berbasis fosil ke elektrifikasi membutuhkan proses transfer pengetahuan yang tidak sederhana, khususnya bagi teknisi dan operator. Selain itu, perubahan teknologi juga berimplikasi pada penyesuaian prosedur operasional dan tata kelola di lapangan.

Dari sisi pengguna, Surateman menyebut ada tiga faktor utama yang mendorong perusahaan mulai melirik alat berat listrik. Pertama adalah efisiensi bisnis, kedua tuntutan global terkait isu ESG khususnya pengurangan emisi karbon, dan ketiga upaya menekan ketergantungan pada BBM.

“Isu karbon sekarang jadi perhatian internasional. Dengan EV, satu langkah besar pengurangan emisi bisa dicapai. Ditambah lagi, pemerintah juga mendorong pengurangan impor BBM, sehingga elektrifikasi menjadi alternatif yang relevan,” katanya.

Terkait kesiapan ekosistem, Surateman menilai infrastruktur pendukung di sektor pertambangan Indonesia memang masih terbatas. Namun minat untuk beralih dari alat konvensional ke listrik cukup besar. Kondisi ini, menurutnya, justru menjadi tantangan sekaligus peluang bagi GM Tractors untuk berperan sebagai fasilitator transisi.

Saat ini, GM Tractors telah menghadirkan sejumlah lini produk alat berat listrik yang menyasar sektor pertambangan. Mulai dari alat angkat seperti wheel loader, ekskavator, truk pengangkut batu bara dan overburden, hingga grader listrik.

“Empat lini produk ini merupakan tulang punggung proses bisnis pertambangan. Artinya, secara produk, kami menilai kesiapan sudah cukup untuk mendukung operasional tambang secara menyeluruh,” ujar Surateman.

Ke depan, GM Tractors optimistis adopsi alat berat listrik akan terus berkembang seiring peningkatan infrastruktur, kesiapan SDM, serta dukungan kebijakan pemerintah. Elektrifikasi alat berat pun diproyeksikan menjadi bagian penting dalam transformasi industri tambang dan konstruksi nasional menuju operasi yang lebih efisien dan berkelanjutan.

Ikuti ListrikIndonesia di GoogleNews

#kendaraan listrik

Index

Berita Lainnya

Index