Listrik Indonesia | Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan bahwa volume impor Solar Indonesia menunjukkan tren penurunan seiring dengan meningkatnya pemanfaatan biodiesel dalam negeri. Hal tersebut ia sampaikan dalam konferensi pers capaian kinerja Kementerian ESDM tahun 2025 di Jakarta, Kamis (8/1).
"Saya bersyukur bahwa impor solar kita di tahun 2024 itu masih kurang lebih sekitar 8,3 juta ton. Kemudian impor kita di tahun 2025 turun menjadi kurang lebih 5 juta ton," ujar Bahlil.
Berdasarkan data Kementerian ESDM, pemanfaatan biodiesel domestik sepanjang Januari hingga Desember 2025 tercatat mencapai 14,2 juta kilo liter (kL). Angka tersebut setara dengan 105,2% dari target Indikator Kinerja Utama (IKU) tahun 2025 yang ditetapkan sebesar 13,5 juta kL. Pencapaian ini berkontribusi terhadap penurunan volume impor Solar dibandingkan periode sebelumnya.
Bahlil menyatakan, capaian pemanfaatan biodiesel tersebut menjadi dasar bagi pemerintah untuk menetapkan target penghentian impor Solar pada 2026. Target tersebut akan didukung melalui uji coba biodiesel B50 yang dijadwalkan rampung pada semester pertama 2026. Apabila hasil evaluasi menunjukkan kelayakan teknis dan ekonomi, implementasi B50 direncanakan berlangsung pada semester kedua tahun yang sama.
Selain menekan impor, kebijakan biodiesel sepanjang 2025 juga berdampak pada penghematan devisa dan aspek lingkungan. Pemerintah mencatat penghematan devisa sebesar Rp130,21 triliun, penurunan emisi hingga 38,88 juta ton CO2 ekuivalen, serta peningkatan nilai tambah Crude Palm Oil (CPO) menjadi biodiesel sebesar Rp20,43 triliun.
Upaya menuju bebas impor Solar pada 2026 juga akan diperkuat dengan beroperasinya proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) di Balikpapan, Kalimantan Timur. Proyek tersebut diharapkan dapat meningkatkan kapasitas produksi Solar dalam negeri.
"Kalau B50 kita pakai dan RDMP kita di Kalimantan Timur diresmikan dalam waktu dekat, maka kita tidak akan melakukan impor solar lagi di tahun 2026," pungkas Bahlil.
Meski demikian, pemerintah masih membuka opsi impor terbatas untuk Solar CN51 yang memiliki spesifikasi khusus bagi kebutuhan industri alat berat. Kebijakan tersebut diambil karena kapasitas produksi domestik untuk jenis Solar berkualitas tinggi tersebut masih dalam tahap pengembangan.

