Listrik Indonesia | Direktur Utama PT PLN Nusa Daya, Feby Joko Priharto mengungkapkan bahwa operasional kelistrikan di wilayah tengah dan timur Indonesia, yang mayoritas berada di pulau-pulau terpencil, hingga kini masih sangat bergantung pada pembangkit berbahan bakar diesel. Hal tersebut ia ungkapkan dalam Majalah Listrik Indonesia Edisi 110, dikutip pada Selasa (27/01/2026).
Feby menjelaskan, ketergantungan terhadap diesel tidak terlepas dari tantangan geografis dan keterbatasan infrastruktur di wilayah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar). Meski demikian, PLN Nusa Daya mulai mengarahkan strategi transisi energi melalui penguatan jasa operasional dan pemeliharaan di sektor energi baru terbarukan.
“Khususnya renewable energy dari fotovoltaik maupun baterai. Itu menjadi sebuah teknologi yang harus diaplikasikan,” ujarnya.
Menurut Feby, penggantian pembangkit diesel secara penuh belum dapat dilakukan di wilayah terpencil. Oleh karena itu, PLN Nusa Daya menerapkan pendekatan hibridisasi dengan mengombinasikan diesel eksisting dan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) rooftop yang dilengkapi sistem penyimpanan energi baterai (battery energy storage system).
“Ini sudah kami implementasikan di Pulau Maratua, Kalimantan Timur,” ucap Feby.
Ia menambahkan, Pulau Maratua menjadi pionir penerapan sistem hibrida tersebut di Indonesia. Pemanfaatan energi terbarukan di wilayah tengah dan timur Indonesia dinilai memiliki potensi besar, seiring dengan kondisi geografis yang mendukung pengembangan energi surya sebagai bagian dari transisi energi nasional.
Selain hibridisasi pembangkit, PLN Nusa Daya juga mengembangkan inovasi untuk menjaga keandalan pasokan listrik di wilayah 3T. Salah satunya melalui pengoperasian Reserve Margin Bergerak sebagai bagian dari upaya mendukung ketahanan energi.
“Selain itu tentu di pembangkitan kita banyak proyek yang lain seperti misalnya kita mendukung reliability atau ketahanan energi dalam mendukung keandalan listrik kita berupa Reserve Margin Bergerak,” ungkapnya.
Reserve Margin Bergerak merupakan unit pembangkit listrik portabel yang dapat dipindahkan ke wilayah yang membutuhkan pasokan listrik secara mendesak, terutama di daerah rawan gangguan dan wilayah 3T. Unit ini berfungsi sebagai cadangan daya di wilayah dengan pasokan listrik terbatas atau saat terjadi lonjakan beban.
Feby menjelaskan, inovasi tersebut merupakan produk PLN Nusa Daya berupa pembangkit listrik berkapasitas sekitar 10 megawatt (MW) yang diangkut menggunakan Landing Craft Tank (LCT), yaitu alat transportasi serbaguna yang mampu menjangkau wilayah pesisir dan sungai.
“LCT yang membawa reserve margin bergerak ini lebih mudah didaratkan termasuk di sungai dan sebagainya. LCT itu kami lengkapi dengan pembangkit dengan kapasitas 10 MW,” terangnya.
Reserve Margin Bergerak dimanfaatkan untuk merespons gangguan mesin pembangkit di wilayah terpencil secara cepat dengan mengirimkan unit pembangkit langsung ke lokasi terdampak. Menurut Feby, inovasi yang telah dikembangkan sejak Januari 2025 tersebut menjadi salah satu solusi untuk menjaga keandalan listrik di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar.
Ia menegaskan bahwa keberadaan Reserve Margin Bergerak memungkinkan PLN Nusa Daya meningkatkan kecepatan respons terhadap kebutuhan daya di lokasi tertentu, sekaligus mendukung proses transisi energi yang dilakukan secara bertahap dan adaptif di wilayah 3T.

