Current Date: Minggu, 15 Februari 2026

Harga Minyak Melemah, Ini Pemicunya

Harga Minyak Melemah, Ini Pemicunya
Harga Minyak Turun

Listrik Indonesia | Harga minyak dunia melemah pada perdagangan Selasa (9/12) seiring meningkatnya perhatian investor terhadap perkembangan pembicaraan damai antara Rusia dan Ukraina, serta kekhawatiran akan potensi kelebihan pasokan global pada 2026.

Mengutip Reuters, Rabu (10/12), harga minyak Brent ditutup turun 0,88% ke level US$61,94 per barel. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) melemah 1,07% menjadi US$58,25 per barel.

Tekanan terhadap harga minyak menguat setelah Ukraina berencana menyampaikan rancangan rencana perdamaian versi terbaru kepada Amerika Serikat. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy sebelumnya juga melakukan pertemuan dengan para pemimpin Prancis, Jerman, dan Inggris guna membahas langkah diplomatik lanjutan untuk mengakhiri konflik.

Prospek kesepakatan damai dinilai berpotensi membuka kembali pasokan minyak Rusia ke pasar global melalui pencabutan atau pelonggaran sanksi internasional. Namun demikian, pelaku pasar masih bersikap skeptis. Presiden Lipow Oil Associates, Andrew Lipow, menilai banyak pihak meragukan keseriusan proses perdamaian dan menganggapnya hanya sebagai upaya mengulur waktu.

Dari lapangan, situasi keamanan di Ukraina masih memanas. Di Kyiv, sekitar setengah populasi dilaporkan mengalami pemadaman listrik usai serangan terbaru terhadap infrastruktur energi.

Di sisi lain, negara-negara Grup Tujuh (G7) dan Uni Eropa tengah mengkaji opsi penggantian mekanisme batas harga minyak Rusia menjadi larangan penuh atas layanan maritim terkait, sebuah langkah yang berpotensi mengubah dinamika pasokan energi global.

Pasar juga menunggu laporan terbaru dari International Energy Agency (IEA) yang diperkirakan akan memberikan gambaran lebih jelas terkait prospek pasokan dan permintaan minyak dunia ke depan.

Sementara dari sisi kebijakan moneter, perhatian investor tertuju pada sikap Federal Reserve (The Fed). Pelaku pasar memperkirakan peluang pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin mencapai 87%. Penurunan suku bunga dinilai dapat menjadi katalis positif bagi permintaan minyak seiring turunnya biaya pinjaman, meski sejumlah analis menilai dampaknya terhadap harga dalam jangka pendek masih terbatas.

Ikuti ListrikIndonesia di GoogleNews

#Minyak

Index

Berita Lainnya

Index