ListrikIndonesia | Indonesia akan memoercepat proses transisi energi menuju Net Zero Emission, dengan tetap memperhatiksn dan nengutamakan keamanan pasok (Availability dan Security) dan Keterjangkauan harga energi.
Energi terbarukan akan dimaksimalkan dan penggunaan batu bara akan dikurangi secara bertahap. Untuk transisi energi Indonesia diperlukan Teknologi dan biaya yang sangat besar, demikian diungkapkan oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Indonesia dalam Plenary tersebut.
Anggota Dewan Energi Nasional Herman Darnel Ibrahim yang ikut menghadiri COP 26 di Glasgow dalam laporannya yang diterima ListrikIndonesia, ia menuliskan. Panel dibuka dengan sambutan Menteri Energi dan Bisnis Inggris, Kwasi Kwarteng. Dalam sambutannya Kwarteng menyampaikan 10 tahun lalu listrik Inggris masih 40 % dari batu bara dan sekarang tinggal 5% saja. Inggris telah menerapkan tahun 2030 energinya sudah tanpa coal sama sekali.
Dalam Panel yang di moderatori oleh Riccardo Puliti, Vice President Infrastructure Bank Dunia tersebut, Menteri ESDM Arifin Tasrif menyampaikan bahwa saat ini 60% listrik Indonesia berasal dari batu bara.
"Indonesia akan berupaya untuk mempercepat transisi energi," ujar Menteri ESDM. Kamis, (4/11/2021).
Lebih lanjut, ia menegaskan Penggunaan batu bara dan kurangi dengan menghentikan Pembangunan PLTU batu bara baru. Permasalahan yang dihadapi Indonesia adalah besarnya kebutuhan dana yang diperlukan untuk melakukan transisi tersebut. Indonesia ingin melakukan transisi energi secepatnys, dengan tetap menjaga keamanan pasokan, dan keterjangkauan harga energi. Diharapkan tersedia teknologi yang dapat memberikan “security” dan “affordability” tersebut.
Panelis lainnya bersama Menteri ESDM adalah adalah Bruno Carrasco Direktur General Sudtainability Development and Climate Change ADB,, Menteri Energi Amerka Serikat Jenniver Granholm, dan Mafalda Duarte CEO Climate Investment Funds.