Listrik Indonesia | Ketua Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia (APBI) Priyadi mengungkapkan bahwa Indonesia akan menggencarkan program hilirisasi batu bara mulai tahun 2026 hingga 2030 untuk mendukung transformasi energi. Hal tersebut ia ungkapkan dalam acara Coal Summit 2024 di Samarinda, dikutip Senin (01/07/2024).
Proyek hilirisasi ini bertujuan untuk memproses batu bara menjadi produk dengan nilai tambah yang lebih tinggi, seperti Dimetil Eter (DME), Metanol, Metil Etilen Glikon (MEG), Gas Sintesis, dan hidrogen. Langkah ini diharapkan dapat mengurangi impor Liquefied Petroleum Gas (LPG) dan memperkuat ketahanan energi nasional.
"Mari dorong bersama-sama, kita cari solusi agar kita juga bisa berperan dalam energi rendah emisi, kita juga bisa mempersiapkan clean coal technology," ungkapnya.
Koordinator Hilirisasi Mineral dan Batu Bara Direktorat Jenderal Mineral dan Batu Bara (Ditjen Minerba) Kementerian ESDM, Ansari menambahkan bahwa produksi batu bara dalam negeri pada periode 2024-2026 diproyeksikan tetap tinggi, yakni sekitar 710-730 juta ton per tahun. Hal ini menunjukkan pentingnya percepatan pengembangan industri hilir batu bara agar pemanfaatannya dapat lebih optimal dan ramah lingkungan.
"Pemanfaatan biofuel dan energi terbarukan lainnya perlu dioptimalkan untuk menggantikan energi fosil di area pertambangan, juga termasuk menetapkan strategi agar transisi energi dapat memberikan peluang bagi perekonomian" jelasnya.
- Baca Juga Produksi Batu Bara 2026 Resmi Dipangkas
Hilirisasi batu bara merupakan mandat dari Undang-Undang (UU) No.3 tahun 2020 tentang Pertambangan Mineral dan Batu Bara (Minerba). Setidaknya, ada 10 perusahaan tambang batu bara yang telah mendapatkan perpanjangan operasional tambang menjadi Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) dan diwajibkan melaksanakan hilirisasi.
Beberapa perusahaan batu bara besar yang terlibat dalam program ini antara lain PT Bumi Resources Tbk (BUMI) melalui anak usahanya PT Kaltim Prima Coal (KPC) dan PT Arutmin Indonesia, PT Kideco Jaya Agung, anak usaha PT Indika Energy Tbk (INDY), PT Bukit Asam Tbk (PTBA), serta PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO).
