Listrik Indonesia | Di tengah ramai spekulasi soal kabar hengkangnya LG dari megaproyek baterai di Indonesia, pemerintah akhirnya memberikan penjelasan resmi. Menteri Investasi dan Kepala BKPM, Rosan Perkasa Roeslani, menyatakan bahwa keputusan untuk mengakhiri kerja sama justru datang dari pihak pemerintah, bukan LG.
“Kalau tadi disebut LG yang mundur, sebenarnya keputusan itu datang dari kami,” ujar Rosan di Istana Negara, Jakarta, Kamis (24/4/2025).
Rosan menyebutkan bahwa keputusan ini telah diformalkan melalui surat resmi dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), yang dikirim pada 31 Januari 2025 kepada CEO LG Chem dan LG Energy Solution.
Ia menambahkan bahwa pembangunan ekosistem baterai di Indonesia sudah berlangsung secara menyeluruh, mulai dari hulu hingga hilir — mencakup penambangan nikel, produksi precursor dan katoda-anoda, hingga pembuatan sel baterai dan daur ulang. Menurutnya, kawasan seperti Morowali dan Weda Bay menjadi pusat produksi yang memainkan peran penting dalam rantai pasok baterai nasional.
Terkait dengan pengganti LG dalam konsorsium, Rosan menyebut perusahaan asal Tiongkok, Huayou, telah menunjukkan ketertarikan sejak 2024 dan bahkan sudah terlibat sejak awal. Kini, Huayou mengambil peran sebagai pemimpin dalam konsorsium tersebut.
“Huayou sebenarnya sudah menjadi bagian dari konsorsium sejak awal, dan sekarang mereka memimpin,” jelas Rosan.
Meski terjadi pergantian pemain, nilai total investasi tetap berada di angka USD 9,8 miliar. Proyek ini, lanjut Rosan, tetap berjalan sesuai rencana, memberikan kontribusi pada penciptaan lapangan kerja, peningkatan ekspor, dan penguatan industri nasional.
“Investasi ini tetap berlanjut bukan karena tanpa tantangan, tapi karena ada keyakinan — keyakinan terhadap stabilitas, perdamaian, dan potensi jangka panjang yang dimiliki Indonesia,” pungkasnya.

