Listrik Indonesia | Peningkatan kapasitas pembangkit energi terbarukan menjadi elemen kunci dalam pencapaian target net zero emission. Namun, karakter intermiten energi surya dan angin menimbulkan tantangan serius terhadap stabilitas dan keandalan sistem kelistrikan.
Menghadapi tantangan ini, teknologi mesin fleksibel Wärtsilä hadir sebagai solusi yang mampu merespons perubahan output energi terbarukan dalam hitungan detik.
Energy Business Director Australasia Wärtsilä Energy, Kari Punnonen, mengungkapkan bahwa teknologi mesin fleksibel Wärtsilä dikembangkan untuk merespons perubahan output energi terbarukan dalam waktu singkat. Hal tersebut ia ungkapkan dalam Majalah Listrik Indonesia Edisi 11, dikutip pada Selasa (20/01/2026).
Mesin Wärtsilä dirancang mampu menyala dan mencapai beban penuh dalam waktu kurang dari dua menit. Selain itu, desain mesin tersebut telah dipersiapkan untuk pengembangan jangka panjang, termasuk kemampuan beroperasi menggunakan bahan bakar berkelanjutan seperti hidrogen dan metanol.
Implementasi teknologi fleksibel ini telah diterapkan di Lombok melalui pembangkit listrik berbasis mesin Wärtsilä berkapasitas 135 MW. Pembangkit tersebut saat ini memasok hampir 60 persen kebutuhan listrik di Pulau Lombok. Sekitar setengah dari kapasitas pembangkit beroperasi sebagai base load, sementara sisanya berfungsi sebagai penyeimbang sistem untuk merespons fluktuasi frekuensi.
Kemampuan respons cepat pembangkit tersebut memungkinkan beroperasinya pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 20 MW di Lombok tanpa dukungan sistem penyimpanan energi berbasis baterai. Model operasional ini dipresentasikan dalam sebuah roundtable sebagai studi kasus yang menunjukkan bahwa integrasi energi terbarukan tidak selalu memerlukan investasi besar pada spinning reserve atau baterai.
“Lombok membuktikan bahwa Indonesia dapat menyeimbangkan energi terbarukan sekaligus menjaga keandalan jaringan tanpa investasi berlebihan,” ujar Febron Siregar, Sales Director Wärtsilä Energy.
Ia menyatakan, “Teknologi mesin kami mampu merespons fluktuasi secara cepat dan menstabilkan jaringan dalam hitungan detik.”
“Solusi yang mampu merespons dalam hitungan detik, seperti teknologi mesin Wärtsilä yang terbukti di Lombok, memastikan integrasi energi terbarukan dapat dilakukan tanpa mengorbankan keandalan sistem,” tambahnya.
Ke depan, pengembangan sistem energi nasional dinilai memerlukan penyesuaian kebijakan yang sejalan dengan transformasi teknologi. Dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034, pemerintah menargetkan pengembangan hampir 3 GW proyek pembangkit listrik tenaga mesin gas (PLTMG) baru. Pembangkit ini dirancang untuk berfungsi sebagai penyeimbang sistem di tengah peningkatan porsi energi bersih, sekaligus menjadi jembatan menuju sistem kelistrikan yang lebih berbasis energi terbarukan.

