Current Date: Minggu, 15 Februari 2026

Bisnis Batu Bara TOBA Mulai Memasuki Senja

Bisnis Batu Bara TOBA Mulai Memasuki Senja
Direktur TOBA, Juli Oktarina/Dok.Ist

Listrik Indonesia | Direktur PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA), Juli Oktarina, mengungkapkan bahwa perusahaan akan menghentikan operasional tiga tambang batu bara miliknya paling lambat pada tahun 2027. Penghentian ini disebabkan oleh habisnya cadangan batu bara di ketiga tambang tersebut, yang juga merupakan bagian dari langkah strategis perusahaan untuk mencapai target Netralitas Karbon pada 2030.

Juli menjelaskan bahwa meskipun cadangan batu bara telah habis, penghentian operasional tidak akan terjadi secara bersamaan. "Ada yang habis pada tahun 2025, 2026, dan terakhir 2027. Jadi, tiga tambang ini akan fully mined out pada 2027," ujar Juli.

Ketiga tambang tersebut adalah PT Adimitra Baratama Nusantara (ABN), PT Trisensa Mineral Utama (TMU), dan PT Indomining (IM). Meski demikian, Juli menyadari bahwa penghentian operasional ini akan berdampak pada arus kas perusahaan, mengingat saat ini mayoritas pendapatan TBS masih bergantung pada bisnis tambang.

Namun, perusahaan tetap berkomitmen untuk mereduksi emisi karbon dan mengalihkan fokusnya menuju energi hijau. Peralihan ini akan memerlukan investasi besar, terutama dalam pembangunan infrastruktur pendukung. Pada Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang diselenggarakan di Jakarta pada Kamis, 14 November 2024, pemegang saham independen menyetujui langkah divestasi dua aset Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berkapasitas 200 MW yang dioperasikan oleh anak perusahaan, yaitu PT Minahasa Cahaya Lestari (MCL) dan PT Gorontalo Listrik Perdana (GLP).

BACA JUGA: Bola Panas Pemberian Tambang ke Ormas

Juli mengungkapkan bahwa pihaknya telah menemukan pembeli untuk aset PLTU tersebut, yaitu PT Kalibiru Sulawesi Abadi (KSA), dengan nilai transaksi mencapai USD 144,8 juta, lebih tinggi dibandingkan nilai investasi awal perusahaan yang sebesar USD 87,4 juta.

Dengan divestasi ini, TBS berencana untuk mengalokasikan kembali hasil pendapatan dari bisnis tambang dan PLTU tersebut untuk sektor bisnis energi hijau, yang mencakup renewable energy, electric vehicles, dan waste management. “Langkah ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang kami untuk bertransisi ke bisnis yang lebih ramah lingkungan,” tambah Juli.

Dengan divestasi dan fokus yang semakin jelas pada energi hijau, TBS Energi Utama berkomitmen untuk menjalankan transformasi menuju masa depan yang lebih berkelanjutan dan sesuai dengan target Netralitas Karbon pada 2030. (RDK)

Ikuti ListrikIndonesia di GoogleNews

#Batu bara

Index

Berita Lainnya

Index