Memahami Alur Kerja RDMP Balikpapan

Memahami Alur Kerja RDMP Balikpapan
RDMP Balikpapan.

Listrik Indonesia | Kilang Balikpapan merupakan salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN) yang dikembangkan untuk memperkuat ketahanan dan kemandirian energi nasional. Melalui proyek Refinery Development Master Plan (RDMP), PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) bersama anak usahanya, PT Kilang Pertamina Balikpapan (KPB), membangun sistem kilang terintegrasi yang mencakup pasokan energi, penerimaan bahan baku, pengolahan minyak mentah, hingga distribusi produk bahan bakar minyak (BBM).

Tahap awal dalam alur kerja RDMP Balikpapan adalah penyediaan energi untuk operasional kilang. Untuk mendukung kebutuhan energi panas dalam proses pengolahan minyak mentah, Pertamina membangun pipa gas Senipah–Balikpapan sepanjang 78 kilometer. Infrastruktur ini memiliki kapasitas alir hingga 125 million standard cubic feet per day (MMSCFD) dan berfungsi menyalurkan gas secara stabil guna memastikan proses pengolahan di kilang berjalan berkelanjutan.

Setelah pasokan energi tersedia, tahapan berikutnya adalah penerimaan dan penyimpanan bahan baku berupa minyak mentah. Di wilayah perairan Kabupaten Penajam Paser Utara, Pertamina membangun fasilitas Single Point Mooring (SPM) berkapasitas 320.000 dead weight ton (DWT). Fasilitas ini memungkinkan kapal pengangkut minyak mentah berukuran besar atau Very Large Crude Carrier (VLCC) untuk bersandar dan menyalurkan muatan minyak mentah ke daratan.

Minyak mentah yang diterima melalui SPM selanjutnya dialirkan menuju fasilitas penyimpanan di kawasan Lawe-Lawe. Di lokasi ini, Pertamina membangun dua tangki penyimpanan baru dengan kapasitas masing-masing 1 juta barel. Penambahan tangki tersebut meningkatkan total kapasitas penyimpanan Kilang Balikpapan menjadi sekitar 7,6 juta barel. Tangki penyimpanan dan SPM Lawe-Lawe dihubungkan oleh jaringan pipa sepanjang kurang lebih 20 kilometer yang melintasi wilayah darat dan bawah laut.

Setelah melalui proses penerimaan dan penyimpanan, minyak mentah kemudian masuk ke tahap pengolahan. Proses ini dilakukan di fasilitas utama kilang, yaitu Crude Distillation Unit (CDU) dan Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC). Kapasitas CDU ditingkatkan menjadi 360 ribu barel per hari dari sebelumnya 260 ribu barel per hari. Unit ini berfungsi sebagai tahap awal pemisahan fraksi minyak mentah berdasarkan titik didihnya.

Sementara itu, unit RFCC berperan mengolah residu hasil distilasi menjadi produk bernilai tambah. Melalui unit ini, sisa pengolahan minyak mentah dapat dikonversi menjadi berbagai produk energi dan petrokimia yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.

Hasil akhir dari proses pengolahan tersebut berupa berbagai produk energi, antara lain BBM jenis gasoline, diesel, dan avtur dengan standar emisi Euro V, LPG, serta produk petrokimia turunan seperti propilena dan sulfur. Produk-produk ini kemudian memasuki tahap distribusi untuk memenuhi kebutuhan energi nasional.

Distribusi BBM dari Kilang Balikpapan dilakukan melalui fasilitas Terminal BBM Tanjung Batu yang memiliki kapasitas penyimpanan sekitar 125 ribu kiloliter. Terminal ini menjadi salah satu titik utama penyaluran produk kilang ke wilayah konsumsi.

Seluruh infrastruktur dalam RDMP Balikpapan dirancang saling terhubung dan mendukung satu sama lain. Ketersediaan pipa gas memastikan efisiensi energi operasional, fasilitas SPM memungkinkan penerimaan minyak mentah dalam skala besar, kapasitas penyimpanan menjaga ketahanan stok, sementara peningkatan kapasitas pengolahan memperkuat pasokan BBM domestik. Secara keseluruhan, integrasi sistem ini diharapkan berkontribusi pada pengurangan impor BBM, penghematan devisa, serta pencapaian target swasembada energi nasional.

Ikuti ListrikIndonesia di GoogleNews

#Kilang BBM

Index

Berita Lainnya

Index