Listrik Indonesia | Lonjakan adopsi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) kian mengubah lanskap industri digital global, termasuk di Indonesia. Di balik pesatnya pemanfaatan AI oleh individu hingga korporasi, tersembunyi tekanan besar terhadap infrastruktur digital, khususnya pusat data dan layanan komputasi cloud.
CEO Biznet Gio, Dondy Bappedyanto, mengungkapkan bahwa gelombang AI telah memicu lonjakan permintaan chip semikonduktor khusus AI. Dampaknya, produksi chip lain seperti RAM dan storage justru tergerus karena pabrikan memprioritaskan chip AI yang bernilai tinggi dan diburu raksasa teknologi dunia.
“Bukan mengambinghitamkan AI, tapi faktanya kebutuhan AI itu luar biasa besar. Produsen chip global sekarang ramai-ramai fokus membuat chip khusus AI. Akibatnya, chip untuk RAM dan storage jadi langka,” ujar Dondy dalam siarannya dikutip Selasa (13/1/2026).
Kelangkaan chip tersebut langsung berdampak pada bisnis data center dan cloud di seluruh dunia, termasuk penyedia layanan lokal seperti Biznet Gio. Kenaikan biaya cloud global pun menjadi konsekuensi yang tak terhindarkan.
Menurut Dondy, lonjakan harga paling signifikan terjadi pada komponen RAM dan storage, yang kenaikannya sudah mencapai 200 hingga 400 persen. Kondisi ini bahkan sudah terasa hingga level konsumen ritel, di mana harga perangkat penyimpanan di marketplace melonjak hampir dua kali lipat dibandingkan sebelumnya.
“Untuk data center, tantangannya jauh lebih kompleks. Kami butuh chip dengan performa tinggi dan keandalan maksimal. Masalahnya bukan cuma mahal, tapi barangnya juga sulit didapat. Seluruh dunia sekarang rebutan,” jelasnya.
Situasi ini diperparah oleh terbatasnya jumlah produsen chip global. Saat ini, hanya segelintir perusahaan besar yang mampu memproduksi semikonduktor berteknologi tinggi, sementara permintaan dari pemain AI seperti OpenAI dan perusahaan teknologi besar lain sudah dikunci melalui kontrak bernilai puluhan miliar dolar AS.
Dondy menilai kondisi tersebut menciptakan “ekuilibrium baru” dalam industri cloud. Harga mungkin suatu saat stabil, tetapi kecil kemungkinan kembali ke level lama, kecuali muncul produsen chip baru yang berani berinvestasi besar.
“Kalaupun nanti turun, harga normalnya bukan harga yang murah seperti dulu. Kecuali ada pemain baru yang masuk dan kapasitas produksi bertambah,” katanya.
Di tengah tekanan biaya global, Biznet Gio memilih strategi bertahan dengan menyeimbangkan kenaikan harga dan peningkatan layanan. Perusahaan berupaya menaikkan tarif secara wajar sembari menjaga performa dan kualitas layanan tetap optimal.
“Bahan baku naik itu tidak bisa dihindari. Tantangan kami adalah bagaimana harga tidak naik terlalu tinggi, sementara layanan justru harus makin baik,” ujar Dondy.
Selain itu, Biznet Gio juga melakukan efisiensi internal dengan memprioritaskan layanan yang paling banyak digunakan pelanggan, mengingat ketersediaan server kini semakin terbatas dan mahal.
Soal energi, Dondy mengakui listrik masih menjadi komponen biaya terbesar data center. Selama tarif listrik belum naik, tekanan biaya masih bisa dikelola. Pemanfaatan energi hijau pun mulai dijajaki, meski kontribusinya belum signifikan untuk operasional utama.
“Solar panel sudah ada, tapi saat ini baru untuk kebutuhan non-krusial seperti lampu. Teknologinya belum cukup efisien untuk menopang seluruh data center,” katanya.
Di tengah tantangan global tersebut, Biznet Gio tetap melanjutkan ekspansi. Perusahaan tengah merampungkan pembangunan data center di Bali yang dirancang khusus untuk kebutuhan AI.
“Data center Bali ini sudah AI-ready. Liquid cooling, kapasitas listrik, semuanya sudah disiapkan untuk server AI berskala besar,” tutur Dondy.
Ekspansi ini menunjukkan bahwa di tengah lonjakan biaya dan kelangkaan pasokan global, kebutuhan akan data center dan cloud tetap tumbuh seiring masifnya adopsi AI. Industri pun kini dituntut beradaptasi dengan realitas baru: teknologi makin canggih, tetapi ongkos infrastrukturnya kian mahal.

